~ Shootgun Blues ~

AGAMA CUMA BAJU, YANG PENTING TUHAN

Bela diri Militan MLM bagian 1

with 11 comments

Setelah disesuaikan dgn gaya bahasa dan EYD seperlunya …

 

Setengah tahun yang lalu saya sealiran dengan anda (Baca : Mbah Umbel) sebagai anti MLM… Saya dulu ga percaya dengan Pameo Ga kenal maka ga sayang, tapi saya percaya dengan istilah ga kenal ga usah banyak bicara. Berdasarkan itu, maka saya mencoba mendalami dunia MLM, kebetulan saya diprospek oleh seseorang yang sangat saya segani sekali. Pikir-pikir saya dah diprospek 16 kali oleh TIENS, jadi saya coba saja mumpung cuma 85 ribu. Di dalam saya menemukan beberapa hal yang saya pahami ternyata benar, dan beberapa hal ternyata salah. Klo tertarik baca ya…
Yang benar adalah:

  1. Mengajak suatu pertemuan bisnis dengan macam-macam kepalsuan (nipu)

  2. Mengajak seluruh kalangan dengan dalil semua orang bisa

  3. Berkedok pertemuan/seminar audio visual
  4. Mengajak agar tidak berkerja nantinya dengan uang mudah.

  5. MLM akan ngotot memaksa semua orang untuk menjadi anggota.

  6. MLM sering mengorbankan pertemanan, persahabtan. dll demi uang. dengan janji-janji tentang kekayaan.

  7. Pertemuan MLM selalu dengan jas atau pakaian-pakaian yang menunjukan kemewahan agar orang tertarik.

  8. Petinggi MLM selalu memamerkan kekayaan mereka (Mobil Mewah, dll.) agar kita tertarik, sungguh ini yang buat masyarakat kita materialis & konsumtif yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan bangsa.

  9. MLM suka dengan slogan “Dia berhasil mengapa anda tidak?”

  10. Statsitik dari Pusat Riset Sekolah Bisnis Universitas Harvard adalah: 98 Orang dari setiap 100 orang keluar dari MLM setelah masuk dengan berbagai macam alasan (tidak punya waktu, susah bergaul, dll.) INTI nya KELUAR tapi ga mau malu.

Tapi dari situ juga saya menemukan sisi lain dari sudut pandangnya :

  1. Ternyata tidak semua MLM menipu dalam mengundang, ada juga yang jujur seperti upline saya. Justru orang-orang yang bertengger di puncak sukses adalah mereka yang jujur dan yang gagal adalah tukang bohong, karena sesuai dengan dalil bisnis yang dilandasi kebohongan tidak akan langgeng, semusim lalu mati. Lagi pula saya menemukan bahwa penipu tidak hanya ada di MLM, penipu ada di mana-mana mas…bener…percaya deh. Apalagi di perwakilan rakyat kita yang terhormat.

  2. Dalil katanya semua orang berpeluang sukses. Ternyata ini benar…semua orang berpeluang untuk sukses, tapi tidak semua orang akan sampai ke sana. Bagaimanapun piramida kehidupan tidak akan bergeser dengan kehadiran MLM. Orang kaya akan lebih sedikit dari orang miskin…ITU SUDAH PASTI dan tidak perlu riset untuk membuktikannya. Sejarah ini sudah terulang berkali-kali… Ambil contoh kasus Ms. Windows. Saat itu sistem GUI diciptakan oleh seseorang berkebangsaan India. Sistem ini dibeli hak patennya oleh Bill Gates dan jadilah Windows. Sayangnya tahun 80 sangat sulit menjual komputer karena masyarakat terlalu GAPTEK. Takut komputer meledaklah, error lah, mesti bayar training lagi dan harganya yang sangat mahal di tahun 80-an. Ini adalah kondisi di mana komputer belum urgent. sehingga banyak yang menolak untuk mendistribusikannya. Tapi apa yang terjadi hari ini…komputer ada di mana-mana. Yang mau mendistribusikannya waktu itu ikut kaya raya, sedangkan yang menolak tetap bahagia menjadi konsumen…walaupun tidak dapat apa-apa. Sekarang banyak pakar dunia yang meramalkan suplemen kesehatan akan menjadi bisnis yang booming. Anda jangan kaget duluan…karena saya jauh lebih heran lagi ” Masa JAMU Booming…dasar ngaco” tapi sapa tau, keterbatasan kita menganalisa ekonomi yang membuat kita ga paham. Jadi saya paham sesuatu bahwa orang ke “satu juta” tidak akan dapat apa-apa… Sayangnya saya tidak mau menjadi orang ke satu juta itu, maka saya lekas-lekas bekerja keras.

  3. Mereka berkedok pertemuan audio visual…ternyata itu bukan kedok memang begitu wajahnya. Mereka adalah sekumpulan tukang cuci otak, karena otak kita memang perlu dicuci terlalu kotor dengan segala pikiran negatif satu sama lain. Saya punya teman yang satu buka warnet…dan yang satu jadi penjaganya. Yang buka Warnet selalu tinggal di Jakarta sedang yang jaga di sini… Yang buka warnet dapat 7 jutaan tanpa perlu kerja, sedangkan teman yang banting tulang jaga cuma 750 ribu. Teman yang jaga ini perlu dicuci otaknya…tolol sekali capek-capek tetap miskin.

  4. Di TIENS…Bintang 8 punya beberapa bintang 7…Bintang 7 punya beberapa bintang 6 dan seterusnya…. Koq sama ya dengan di kantor saya General Manager punya beberapa manager…manager punya beberapa supervisor, supervisor punya beberapa coordinator, dst….KOK SAMA YA ????

  5. Saya menemukan bahwa anggota MLM sering berpakaian rapi….saya pikir untuk menipu…. tapi kenapa pegawai bank juga seperti itu? Saya rasa karena tidak akan ada orang yang bekerjasama dengan orang yang penampilannya tidak profesional…dan itu sah-sah saja

  6. Petinggi MLM tukang pamer….bagi saya itu no problem, karena bisa membakar semangat yang ngeliatnya. ORANG YANG MENGEJAR MOBIL MEWAH KEMUNGKINAN TIDAK AKAN MENDAPATKANNYA…TAPI YANG TIDAK MENGEJAR SUDAH PASTI TIDAK AKAN MENDAPATKANNYA…BENARKAN? EH SORRY, KHAN ADA UNDIAN di TV HE…HE…HE

  7. Dari 100 yang menjalankannya cuma 2 yang bertahan dan itulah seleksi alam. 98 yang gugur bukan korban tapi memang males…dan jelas tidak semua orang akan kaya…

  8. MLM ILLEGAL di Amerika…ya jelaslah…negara kapitalis kaya gitu… Orang nganggur ga masalah kan ada tunjangan penganggurannya. Selain itu antara MLM dan Money Game terlihat layaknya Twin Brother dengan karakter berbeda. Tapi dengan standar proteksi yang tinggi model jaringan dibending keseluruhan secara temporal..sementara di Indonesia ada masalah tersendiri pendapatan per-kapita terlalu rendah… sehingga produk standar internasional terasa kemahalan… disitulah tantangannya…

  9. Makan uang dari orang yang tidak dikenal adalah dosa? Gimana yah… Pada saat usaha sudah besar, maka itu menjadi milik masyarakat. Lihat TELKOMSEL… mempunyai belasan ribu karyawan… Apakah anda mau bertaruh dengan saya bahwa Pemiliknya mengenal semua pegawai yang menghasilkan uang buat dia…. Atau lebih ekstrim pegawai perusahaan komunikasi harus mengenal semua pengguna jasanya…karena dari sanalah semua penghasilannya…. JANGAN NGACO deh…! KALAU “1 juta orang” sudah gabung maka penjualan akan terhenti atau jenuh…itu ga bakalan terjadi… ga ngerti kan? Itu hanya akan dipahami oleh yang mau menekuni dan bukan sekedar menggunakan logika dan teori yang sbenarnya cukup dangkal sih.

Oh…iya…Mas harus menghapus bagian di mana dikatakan bahwa Robert Kiyosaki tidak mendukung Network Marketing…karena itu dulu…Sekarang dia sudah open mind buat Network MArketing…Dan itu ada di buku business school hal.6 dan video stream (dia ngomong langsung dengan detail) MLM terus berkembang meskipun saya dan anda tidak bergabung…dan itu fakta (meskipun banyak yang rontok tapi jumlah yang real fighter semakin banyak)

 

Masih bersambung kok di sini

Written by asukowe

September 28, 2007 pada 7:55 am

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] gini lho kata2 si musuhnya Mbah Umbel itu, di sini […]

  2. Kalau ndak komen kok ya kuran sreg geto. Ya sudah saya komen dikit:

    ASUKOWE

    Dah gitu aja komen ai.

    ( ** Kabrur … ** )

    Emanuel Setio Dewo

    September 28, 2007 at 4:58 pm

  3. ga usah berpayah-payah Menjelaskan ke orang yang nyata-nyata Anti Su… cuma menghabiskan energi.. lebih baik jalankan bisnis Anda..mau jelaskan berhalaman-halaman pun tak akan goyahkan mereka..apalagi berharap jadi downline kita .. hidup memang pilihan….

    Anang Pangestu

    Oktober 1, 2007 at 7:30 am

  4. Kagem Anang…
    Oke-oke…Bro

    asukowe

    Oktober 1, 2007 at 7:43 am

  5. Saya pernah beberapa kali bergabung dg bisnis mlm,pernah gagal juga sempat mencicipi keberhasilan. Namun sy tinggalkan mlm karena alasan yang tidak dapat sy menyangkalnya yakni artikel di bawah ini :
    Multilevel marketing secara harfiah adalah pemasaran yang dilakukan melalui banyak level atau tingkatan, yang biasanya dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat bawah). Up line dan down line umumnya mencerminkan hubungan pada dua level yang berbeda atas dan bawah, maka seseorang disebut up line jika mempunyai down line, baik satu maupun lebih. Bisnis yang menggunakan multilevel marketing ini memang digerakkan dengan jaringan, yang terdiri dari up line dan down line. Meski masing-masing perusahaan dan pebisnisnya menyebut dengan istilah yang berbeda-beda. Demikian juga dengan bentuk jaringannya, antara satu perusahaan dengan yang lain, mempunyai aturan dan mekanisme yang berbeda; ada yang vertikal, dan horisontal. Misalnya, Gold Quest dari satu orang disebut TCO (tracking centre owner), untuk mendapatkan bonus dari perusahaan, dia harus mempunyai jaringan; 5 orang di sebelah kanan, dan 5 orang di sebelah kiri, sehingga baru disebut satu level. Kemudian disambung dengan level-level berikutnya hingga sampai pada titik level tertentu ke bawah yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Masing-masing level tersebut kemudian mendapatkan bonus (komisi) sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan. Meski perusahaan ini tidak menyebut dengan istilah multilevel marketing, namun diakui atau tidak, sejatinya praktek yang digunakan adalah praktek multilevel marketing.

    Demikian halnya dengan praktek pebisnis yang lainnya dengan aturan dan mekanisme yang berbeda. Misalnya, dari atas ke bawah, tanpa ditentukan struktur horizontalnya, tetapi langsung dari atas ke bawah. Setelah itu, masing-masing level tadi mendapatkan bonus dari perusahaan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang dipatok oleh masing-masing perusahaan yang diikutinya.

    Untuk masuk dalam jaringan bisnis pemasaran seperti ini, biasanya setiap orang harus menjadi member (anggota jaringan) —ada juga yang diistilahkan dengan sebutan distributor— kadangkala membership tersebut dilakukan dengan mengisi formulir membership dengan membayar sejumlah uang pendaftaran, disertai dengan pembelian produk tertentu agar member tersebut mempunyai point, dan kadang tanpa pembelian produk. Dalam hal ini, perolehan point menjadi sangat penting, karena kadangkala suatu perusahaan multilevel marketing menjadi point sebagai ukuran besar kecilnya bonus yang diperoleh. Point tersebut bisa dihitung berdasarkan pembelian langsung, atau tidak langsung. Pembelian langsung biasanya dilakukan oleh masing-masing member, sedangkan pembelian tidak langsung biasanya dilakukan oleh jaringan member tersebut. Dari sini, kemudian ada istilah bonus jaringan. Karena dua kelebihan inilah, biasanya bisnis multilevel marketing ini diminati banyak kalangan. Ditambah dengan potongan harga yang tidak diberikan kepada orang yang tidak menjadi member.

    Namun, ada juga point yang menentukan bonus member ditentukan bukan oleh pembelian baik langsung maupun tidak, melainkan oleh referee (pemakelaran) —sebagaimana istilah mereka— yang dilakukan terhadap orang lain, agar orang tersebut menjadi member dan include di dalamnya pembelian produk. Dalan hal ini, satu member Gold Quest harus membangun formasi 5-5 untuk satu levelnya, dan cukup sekali pendaftaran diri menjadi membership, maka member tersebut tetap berhak mendapatkan bonus. Tanpa dihitung lagi, berapa pembelian langsung maupun tak langsungnya. Pada prinsipnya tidak berbeda dengan perusahaan lain. Seorang member/distributor harus menseponsori orang lain agar menjadi member/distributor dan orang ini menjadi down line dari orang yang menseponsorinya (up line-nya). Begitu seterusnya up line “harus” membimbing down line-nya untuk mensponsori orang lain lagi dan membentuk jaringan. Sehingga orang yang menjadi up line akan mendapat bonus jaringan atau komisi kepemimpinan. Sekalipun tidak ditentukan formasi jaringan horizontal maupun vertikalnya.

    Fakta Umum Multilevel Marketing

    Dari paparan di atas, jelas menunjukkan bahwa multilevel marketing —sebagai bisnis pemasaran— tersebut adalah bisnis yang dibangun berdasarkan formasi jaringan tertentu; bisa top-down (atas-bawah) atau left-right (kiri-kanan), dengan kata lain, vertikal atau horizontal; atau perpaduan antara keduanya. Namun formasi seperti ini tidak akan hidup dan berjalan, jika tidak ada benefit (keuntungan), yang berupa bonus. Bentuknya, bisa berupa (1) potongan harga, (2) bonus pembelian langsung, (3) bonus jaringan –istilah lainnya komisi kepemimpinan. Dari ketiga jenis bonus tersebut, jenis bonus ketigalah yang diterapkan di hampir semua bisnis multilevel marketing, baik yang secara langsung menamakan dirinya bisnis MLM ataupun tidak, seperti Gold Quest. Sementara bonus jaringan adalah bonus yang diberikan karena faktor jasa masing-masing member dalam membanguan formasi jaringannya. Dengan kata lain, bonus ini diberikan kepada member yang bersangkutan, karena telah berjasa menjualkan produk perusahaan secara tidak langsung. Meski, perusahaan tersebut tidak menyebutkan secara langsung dengan istilah referee (pemakelaran) seperti kasus Gold Quest, —istilah lainnya sponsor, promotor— namun pada dasarnya bonus jaringan seperti ini juga merupakan referee (pemakelaran).

    Karena itu, posisi member dalam jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi: (1) pembeli langsung, (2) makelar. Disebut pembeli langsung manakala sebagai member, dia melakukan transaksi pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui distributor atau pusat stock. Disebut makelar, karena dia telah menjadi perantara —melalui perekrutan yang telah dia lakukan— bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk perusahaan tersebut. Inilah praktek yang terjadi dalam bisnis MLM yang menamakan multilevel marketing, maupun refereal business.

    Dari sini, kasus tersebut bisa dikaji berdasarkan dua fakta di atas, yaitu fakta pembelian langsung dan fakta makelar. Dalam prakteknya, pembelian langsung yang dilakukan, disamping mendapatkan bonus langsung, berupa potongan, juga point yang secara akumulatif akan dinominalkan dengan sejumlah uang tertentu. Pada saat yang sama, melalui formasi jaringan yang dibentuknya, orang tersebut bisa mendapatkan bonus tidak langsung. Padahal, bonus yang kedua merupakan bonus yang dihasilkan melalui proses pemakelaran, seperti yang telah dikemukakan.

    Hukum Syara’ Seputar Dua Akad dan Makelar

    Dari fakta-fakta umum yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa praktek multilevel marketing tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua hukum, bisa salah satunya, atau kedua-duanya sekaligus:

    1. Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah (pemakelaran).

    2. Hukum pemakelaran atas pemakelaran, atau samsarah ‘ala samsarah. Up line atau TCO atau apalah namanya, adalah simsar (makelar), baik bagi pemilik (malik) langsung, atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.

    Mengenai kasus shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, telah banyak dinyatakan dalam hadits Nabis Saw, antara lain, sebagai berikut:

    1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra. Yang menyatakan:

    “Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”*1)

    Dalam hal ini, asy-Syafi’i memberikan keterangan (syarh) terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:

    Jika seseorang mengatakan: “Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, sayapun menetapkan milik saya menjadi milik anda.”*2)

    Dalam konteks ini, maksud dari bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut include dalam satu aqad.

    2. Hadits dari al-Bazzar dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan:

    “Rasululllah Saw telah melarang dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”*3)

    Hadits yang senada dikemukan oleh at-Thabrani dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut:

    “Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”*4)

    Maksud hadits ini sama dengan hadits yang telah dinyatakan dalam point 1 di atas. Dalam hal ini, Rasulullah Saw, dengan tegas melarang praktek dua akad (kesepakatan) dalam satu aqad (kesepakatan).

    3. Hadits Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban dari ‘Amr bin Syuyb, dari bapaknya, dari kakeknya, dengan redaksi:

    “Tidak dihalalkan salaf (akad pemesanan barang) dengan jual-beli, dan tidak dihalalkan dua syarat dalam satu transaksi jual-beli.”*5)

    Hadits ini menegaskan larangan dalam dua konteks hadits sebelumnya, dengan disertai contoh kasus, yaitu akad salaf, atau akad pemesanan barang dengan pembayaran di depan, atau semacam inden barang, dengan akad jual-beli dalam satu transaksi, atau akad. Untuk mempertegas konteks hadits yang terakhir ini, penjelasan as-Sarakhsi —penganut mazhab Hanafi— bisa digunakan. Beliau juga menjelaskan, bahwa melakukan transaksi jual-beli dengan ijarah (kontrak jasa) dalam satu akad juga termasuk larangan dalam hadits tersebut.*6)

    Dari dalalah yang ada, baik yang menggunakan lafadz naha (melarang), maupun lâ tahillu/yahillu (tidak dihalalkan) menunjukkan, bahwa hukum muamalah yang disebutkan dalam hadits tersebut jelas haram. Sebab, ada lafadz dengan jelas menunjukkan keharamannya, seperti lâ tahillu/yahillu. Ini mengenai dalil dan hukum yang berkaitan dengan dua transaksi dalam satu akad, serta manath hukumnya.

    Mengenai akad (shafqah)-nya para ulama’ mendefinisikannya sebagai:

    Akad merupakan hubungan antara ijab dan qabul dalam bentuk yang disyariatkan, dengan dampak yang ditetapkan pada tempatnya.*7)

    Maka, suatu tasharruf qawli (tindakan lisan) dikatakan sebagai akad, jika ada ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan), ijab (penawaran) dari pihak pertama, sedangkan qabul (penerimaan) dari pihak kedua. Ijab dan qabul ini juga harus dilakukan secara syar’i, sehingga dampaknya juga halal bagi masing-masing pihak. Misalnya, seorang penjual barang menyakan: “Saya jual rumah saya ini kepada anda dengan harga 50 juta”, adalah bentuk penawaran (ijab), maka ketika si pembeli menyakan: “Saya beli rumah anda dengan harga 50 juta”, adalah penerimaan (qabul). Dampak ijab-qabul ini adalah masing-masing pihak mendapatkan hasil dari akadnya; si penjual berhak mendapatkan uang si pembeli sebesar Rp. 50 juta, sedangkan si pembeli berhak mendapatkan rumah si penjual tadi. Inilah bentuk akad yang diperbolehkan oleh syara’.

    Di samping itu, Islam telah menetapkan bahwa akad harus dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara: zat (barang atau benda) atau jasa (manfaat). Misalnya, akad syirkah dan jual beli adalah akad yang dilakukan terhadap zat (barang atau benda), sedangkan akad ijarah adah akad yang dilakukan terhadap jasa (manfaat). Selain terhadap dua hal ini, maka akad tersebut statusnya bathil.

    Adapun praktek pemakelaran secara umum, hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:

    “Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural dari simsar, makelar), kemudian Rasulullah Saw keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: ‘Wahai para tujjar (bentuk plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual-beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah, maka bersihkan dengan sedekah’.”*8)

    Hanya, yang perlu dipahami adalah fakta pemakelaran yang dinyatakan dalam hadits Rasulullah Saw sebagaimana yang dijelaskan oleh as-Sarakhsi ketika mengemukakan hadits ini adalah:

    ”Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi (upah atau bonus). Baik untuk menjual maupun membeli.”*9)

    Ulama’ penganut Hambali, Muhammad bin Abi al-Fath, dalam kitabnya, al-Mutalli’, telah meyatakan definisi tentang pemakelaran, yang dalam fiqih dikenal dengan samsarah, atau dalal tersebut, seraya menyakan:

    “Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: saya telah menunjukkan anda pada sesuatu —dengan difathah dal-nya, dalalat(an), dan dilalat(an), serta didahmmah dalnya, dalul(an), atau dululat(an)— jika anda menunjukkan kepadanya, yaitu jika seorang pembeli menunjukkan kepadanya, maka orang itu adalah simsar (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual), dan juga disebut dalal.”*10)

    Dari batasan-batasn tentang pemakelaran di atas, bisa disimpulkan, bahwa pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith). Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawwith al-mutawwith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelaran.

    Hukum Dua Akad Dan Makelar Dalam Praktek MLM

    Mengenai status MLM, maka dalam hal ini perlu diklasifikasikan berdasarkan fakta masing-masing. Dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, maka bisa disimpulkan:

    1. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, yang untuk itu orang yang akan menjadi member tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member —apapun istilahnya, apakah membeli posisi ataupun yang lain— disertai membeli produk. Pada waktu yang sama, dia menjadi referee (makelar) bagi perusahaan dengan cara merekrut orang, maka praktek MLM seperti ini, jelar termasuk dalam kategori hadits: shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, dalam hal ini, orang tersebut telah melakukan transaksi jual-beli dengan pemakelaran secara bersama-sama dalam satu akad. Maka, praktek seperti ini jelas diharamkan sebagaimana hadits di atas.

    2. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, tanpa harus membeli produk, meski untuk itu orang tersebut tetap harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member. Pada waktu yang sama membership (keanggotaan) tersebut mempunyai dampak diperolehnya bonus (point), baik dari pembelian yang dilakukannya di kemudian hari maupun dari jaringan di bawahnya, maka praktek ini juga termasuk dalam kategori shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, membership tersebut merupakan bentuk akad, yang mempunyai dampak tertentu. Dampaknya, ketika pada suatu hari dia membeli produk –meski pada saat mendaftar menjadi member tidak melakukan pembelian– dia akan mendapatkan bonus langsung. Pada saat yang sama, ketentuan dalam membership tadi menetapkan bahwa orang tersebut berhak mendapatkan bonus, jika jaringan di bawahnya aktif, meski pada awalnya belum. Bahkan ia akan mendapat bonus (point) karena ia telah mensponsori orang lain untuk menjadi member. Dengan demikian pada saat itu ia menandatangani dua akad yaitu akad membership dan akad samsarah (pemakelaran).

    3. Pada saat yang sama, MLM tersebut membuka membership tanpa disertai ketentuan harus membeli produk, maka akad membership seperti ini justru merupakan akad yang tidak dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara, zat dan jasa. Tetapi, akad untuk mendapad jaminan menerima bonus, jika di kemudian hari membeli barang. Kasus ini, persis seperti orang yang mendaftar sebagai anggota asuransi, dengan membayar polis asuransi untuk mendapatkan jaminan P.T. Asuransi. Berbeda dengan orang yang membeli produk dalam jumlah tertentu, kemudian mendapatkan bonus langsung berupa kartu diskon, yang bisa digunakan sebagai alat untuk mendapatkan diskon dalam pembelian selanjutnya. Sebab, dia mendapatkan kartu diskon bukan karena akad untuk mendapatkan jaminan, tetapi akad jual beli terhadap barang. Dari akad jual beli itulah, dia baru mendapatkan bonus. Dan karenanya, MLM seperti ini juga telah melanggar ketentuan akad syar’i, sehingga hukumnya tetap haram.

    Ini dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, yang jelas hukumnya haram. Adapun dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, maka bisa disimpulkan, semua MLM hampir dipastikan mempraktekkan samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran terhadap pemakelaran). Karena justru inilah yang menjadi kunci bisnis multilevel marketing. Karena itu, dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, bisa dikatakan MLM yang ada saat ini tidak ada yang terlepas dari praktek ini. Padahal, sebagaimana yang dijelaskan di atas, praktek samsarah ‘ala samsarah jelas bertentangan dengan praktek samsarah dalam Islam. Maka, dari aspek yang kedua ini, MLM yang ada saat ini, prakteknya jelas telah menyimpang dari syariat islam. Dengan demikian hukumnya haram.

    Kesimpulan

    Inilah fakta, dalil-dalil, pandangan ulama’ terhadap fakta dalil serta status tahqiq al-manath hukum MLM, dilihat dari aspek muamalahnya. Analisis ini berpijak kepada fakta aktivitasnya, bukan produk barangnya, yang dikembangkan dalam bisnis MLM secara umum. Jika hukum MLM dirumuskan dengan hanya melihat atau berpijak pada produknya —apakah halal ataukah haram— maka hal itu justru meninggalkan realita pokoknya, karena MLM adalah bentuk transaksi (akad) muamalah. Oleh karenanya hukum MLM harus dirumuskan dengan menganalisis keduanya, baik akad (transaksi) maupun produknya. Mengenai akad (transaksi) maupun produknya. Mengenai akad (transaksi) yang ada dalam MLM telah dijelaskan dalam paparan di atas.

    Adapun dari aspek produknya, memang ada yang halal dan haram. Meski demikian, jika produk yang halal tersebut diperoleh dengan cara yang tidak syar’i, maka akadnya batil dan kepemilikannya juga tidak sah. Sebab, kepemilikan itu merupakan izin yang diberikan oleh pembuat syariat (idzn asy-syari’) untuk memanfaatkan zat atau jasa tertentu. Izin syara’ dalam kasus ini diperoleh, jika akad tersebut dilakukan secara syar’i, baik dari aspek muamalahnya, maupun barangnya.

    Dengan melihat analisis di atas maka sekalipun produk yang diperjual-belikan adalah halal, akan tetapi akad yang terjadi dalam bisnis MLM adalah akad yang melanggar ketentuan syara’ baik dari sisi shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran); pada kondisi lain tidak memenuhi ketentuan akad karena yang ada adalah akad terhadap jaminan mendapat diskon dan bonus (point) dari pembelian langsung; maka MLM yang demikian hukumnya adalah haram.

    Namun, jika ada MLM yang produknya halal, dan dijalankan sesuai dengan syariat Islam; tidak melanggar shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran). Serta ketentuan hukum syara’ yang lain, maka tentu diperbolehkan. Masalahnya adakah MLM yang demikian?!

    Hafidz Abdurrahman

    kang Kuwat

    Oktober 20, 2007 at 2:57 pm

  6. saya sempat menjalankan bisnis mlm kurang lebih 2 tahun, kemudian setelah itu sampai sekarang sempat menjadi pengamat. pengetahuan saya ttg mlm juga gak terlalu banyak, cuma mungkin saya bisa share sedikit. Konsep mlm yang mungkin sudah anda2 tahu bagaimana menyampaikan produk langsung dari perusahaan ke konsumen. siapa konsumennya? para distributor, makanya disebut direct selling.kalo distributor menjual lagi kekonsumen yg non-distributor jalur distribusinya bisa disebut marketing satu tingkat. tapi saya tidak membicarakan yang itu. kemudian dari sisi marketing yang yg lain, penjualannya merupakan penjualan massa. Tapi saya ingin menegaskan bahwa memang ada perusahaan yang memang benar2 ingin memasarkan produknya dg sistem mlm karena pertumbuhan penjualan yg cepat. Tapi ada juga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menangguk untung sesaat. atau ada yang berniat membangun kerajaan bisnis dgn sistem mlm tapi menajemen yang kurang baik akhirnya gulung tikar juga. Atau juga para anggotanya yang kurang bermoral dan beretika. Yang pasti konsep mlm adalah merupakan sistem pemasaran baru (walau sudah ada sejak 1950-an)dan mungkin memang butuh waktu untuk diterima masyarakat secara global. Tentang Robert Kiyosaki dalam merekomendasikan bisnis ini karena telah menganalisis bisnis yang dijalankan temannya yaitu mlm yang saya baca di Bussiness School. Dan juga ada buku dari serial Rich Dad Poor Dad-nya Robert Kiyosaki yaitu Prophecy yang akhir2 ini saya baca bahwa dianalogikan pesawat telepon yg dulu serba kabel sekarang sudah nirkabel (sellular), begitu juga mlm adalah perusahaan yg dibangun berpotensi kerajaan bisnis dan bentuk fisiknya tidak kelihatan (karena tidak seperti perusahaan konvensional seperti astra, telkom, Bakrie Group, dll), bisnis mlm adalah bentuk bussiness owner yang bentuk fisiknya tak akan kelihatan (saya sebut:nirfisik), yang berpotensi ke pelosok dunia yang bersumber dari bisnis rumahan. Ini adalah sebuah visi dan ini kenyataan. Contoh saja Robert Angkasa dari Amway, Trisulo dari Tianshi, dll. Dan mlm adalah sebuah alternatif profesi, alternatif usaha, dan menurut Robert Kiyosaki alternatif Investasi. Kita bisa belajar investasi lewat mlm karena biaya awal murah, sedikit resiko, dan tidak rumit dalam memiliki hak usaha. Tapi adapun konsekuensi yg harus dihadapi yaitu penolakan yang begitu banyak.

    haryadi

    Januari 21, 2008 at 3:22 am

  7. wah jan analisise ki muantebbb tenan
    guanteng tenan to kowe iki hehehehhe
    kowe ndelok asuku ra……ucul jee
    http://bravo9682.wordpress.com

    bravo9682

    Mei 21, 2008 at 11:56 am

  8. Kagem :

    @kang Kuwat
    Puanjangggg dan lamaaaaa…..🙂 kapan2 saya coba PM aja njenengan soal di atas. Duduk berdua nyruput kopi sambil ngisep lucky strik, lalu diskusi sehat…

    @haryadi
    “Tapi adapun konsekuensi yg harus dihadapi yaitu penolakan yang begitu banyak”

    Penolakan yang banyak karena mereka gagal, kena tipu dan enggak maju2, padahal energi biaya dan tenaga sudah sedemikian parah nya. Biasa lah dalam bisnis… Banyak jalan menuju kaya, bisa buka restoran, bisa buka salon, buka diskotik, MLM dll. Yang gagal MLM lalu bilang MLM nya menipu, haram dan lain-lain. Kalau saya intinya 1 saja, MLM banyak ada yang baik dan bener, kalau kita merasa bukan orang jahat, join lah MLM yang bener. Kasihan istri dan anak kita kalau hasil kerja kita enggak bener.

    @bravo9682
    Asu? Lho tadi aku bikin sate enak tenan je, jangan-jangan apakah berasal dari asumu yg ucul ?🙂

    asukowe

    Juni 1, 2008 at 6:56 am

  9. Sebuah rahasia untuk menaikkan penghasilan
    sampai 700% akhirnya terungkap.

    Coba simak dan renungkan link berikut :
    http://fhurl.com/b11897

    Sendy Firmansyah

    Juni 26, 2008 at 2:08 am

  10. tegakkan syariah dan khilafah!!! warga sejahtera, aman sentosa niscaya terwujud

    almuharir

    September 27, 2008 at 3:47 pm

  11. MLM dalam ISLAM by Ustadz Ihsan Tanjung

    pengisi rubrik Depan > Suara Langit > Menuju Kehidupan Sejati di ERAMUSLIM

    INDIAR

    Maret 24, 2009 at 7:11 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: