~ Shootgun Blues ~

AGAMA CUMA BAJU, YANG PENTING TUHAN

Hukum Islam itu adil

with 2 comments

Pada dasarnya, seluruh agama diturunkan oleh Tuhan berdampak kedamaian manusia dari pertikaian dan kedzaliman dari dan terhadap sesamanya. Karenanya agama dilengkapi dengan seperangkat hukum yang diberlakukan bagi mereka yang meyakininya.

Sementara itu, hukum, sukar mudahnya, hidup matinya dan diterima atau ditolaknya oleh masyarakat tergantung pada asas dan tiang-tiang pokoknya. Jika asas dan tiang pokok hukum telah diterima maka masyarakat (biarpun majemuk) tidak perlu lagi berseteru, apakah suatu hukum diperlukan untuk menjaga ketenteraman hidup mereka atau tidak. Hukum dibuat bukan untuk memberatkan masyarakat, meski konsekuensi yang harus ditanggung adalah membebani masyarakat.

Namun tentu saja, masyarakat harus dapat mengerti sebatas mana toleransi mereka dijabarkan. Sama sekali mustahil masyarakat dapat menerima jika peraturan dibuat hanya untuk membatasi mereka dari hak untuk mendapatkan kebebasannya sebagai manusia.

Secara spesifik Islam mengajarkan hanifiyyatus samhah (kemudahan), “tidaklah disuruh memilih antara dua urusan, melainkan Nabi memilih yang lebih mudah di antara keduanya selama bukan dosa” (HR Bukhari).

Apabila suatu hukum telah melupakan batas-batas toleransi masyarakat (yang majemuk), lenyaplah kepercayaan pada hukum tersebut, termasuk kepada para aparat penegak hukumnya. Masyarakat yang merasa terkungkung oleh suatu hukum akan senantiasa mempertanyakan keabsahan hukum tersebut di mata pemerintah, dan bahkan sangat dimungkinkan timbulnya gairah menentang yang semakin lama semakin membara.

Manusia memiliki cara-cara yang berlainan dalam menyembah Tuhannya. Artinya kaidah-kaidah umum dapat digunakan untuk landasan hukum syariat Islam sesuai perkembangan zaman. Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang apabila diterangkan justru akan menyusahkan” (QS. 5: 101).

Pada saat turunnya ayat ini para sahabat nabi menyadari untuk tidak terlalu bertele-tele dalam mempertanyakan perintah-perintah Nabi. Di mana situasi dan kondisi tertentu membolehkan diambilnya tindakan yang berbeda-beda.

Dalam Islam, setiap manusia memiliki kedudukan yang setara. Tidak saling mengungguli atas dasar kebangsaan, kemegahan, kekayaan, dan keturunan, termasuk kekuasaan. Pemerintah tidak dapat semena-mena membuat perundang-undangan yang mendiskreditkan warga negara lainnya (Isyu Khalifah). Nas-nas Alquran tidak membatasi keadilan hanya pada segolongan manusia saja, namun keadilan harus diterapkan kepada sesama manusia.

Keadilan yang demikianlah yang menggiring manusia berbondong mencintai Islam; bukan sebaliknya, takut atau bahkan benci karena ulah sementara pihak yang suka pamer kesemena-menaan. Untuk kesekian kalinya pula, umat Islam Indonesia harus menanggung “abu hangat” setelah isu terorisme mulai mengendap.

Disadari atau tidak, fenomena kesombongan Muslim yang kian semarak karena masing-masing pihak lebih menonjolkan unsur emosional semakin menggerus citra Islam. Kedamaian dan kerukunan telah semakin menjauh dari umat Islam. Sementara itu, sebagian umat berharap keselarasan hukum Indonesia dapat terejawantahkan bersama Islam, ternyata kelompok-kelompok Muslim justru asyik dengan propaganda “Islam yang paling unggul”nya.

Maka alangkah indahnya bila masing-masing pihak dapat lebih arif menyikapi perbedaan dan lebih mengedepankan musyawarah dengan kepala dingin untuk mengemukakan pendapatnya agar keutuhan umat dan bangsa terjalin dalam keharmonisan.

Written by asukowe

September 26, 2007 pada 6:49 pm

Ditulis dalam Agama Islam

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setelah Anda berkunjung ke ruman saya, saya coba berkunjung ker “rumah” Anda untuk mengenal siapa Anda… sorry.

    oooo ternyata pandangan Anda begitu toh?

    Sebelum saya meninggalkan rumah Anda, saya akan memberikan satu pertanyaan sebagai renungan. Mengapa Allah berfirman,

    لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Allah tidak melarang kalian terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama, dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian untuk kalian berbuat baik dan berbuat adil kepada mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. (al-Mumtahanah:8)

    Mengapa ungkapan yang digunakan “Allah tidak melarang”, dan mengapa pula dikaitkan dengan orang yang tidak memerangi karena agama dan mengusir dari negeri? Dan apakah kaum kafir tidak memerangi umat Islam, baik dengan soft war maupun hard war?

    abah Zacky al-Atsary

    September 30, 2007 at 5:30 am

  2. Kagem Abah :

    Kaum kafir mana yang memerangi Islam? coba njenengan tunjuk secara langsung jadi saya bisa melakukan pembahasan…

    asukowe

    September 30, 2007 at 6:03 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: