~ Shootgun Blues ~

AGAMA CUMA BAJU, YANG PENTING TUHAN

Archive for September 2007

Apakah Kejahatan diciptakan Tuhan?

with 34 comments

Apakah dingin itu ada?

Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Apakah gelap itu ada?

Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi kita tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Apakah kejahatan itu ada?

Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap,  kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.

Albert Einstein.

Iklan

Written by asukowe

September 29, 2007 at 12:28 pm

Ditulis dalam Buat direnungkan

Bela diri Militan MLM

with 17 comments

Postingan ini saya dedicated kan kepada Mbelgedez, terinspirasi dari kata-kata beliau yang merujuk pada pendekar MLM kepada saya, mungkin, makhluk imut yang menurut saya sangat monumental sekali dengan slogannya yang bocor halus ini mencoba balas dendam kepada saya karena saya panggil dia Mbah Umbel. Lha tapi gitu begitu, beliaulah yang tak anggap berjasa sebagai pencetus ide saya untuk “pararel’ sehingga saya mau bergaul akrab dengan blog manusia biasa seperti wordpress ini (ingat-ingat jaman arisan MLM 🙂 ), ssst… mohon jangan salah persepsi tentang manusia biasa, terus yang dimaksud dengan manusia luar biasa itu ternyata adalah saya. Lho kok? alasannya begini bro.. karena saya sebenarnya paling anti dengan blog-blog mini yang berkeliaran di luaran sana, Weleh barangkali karena saya terbiasa luar biasa dengan Forum gamer yang interaksinya secara langsung, seperti 4 matanya Tukul itu lho… kalo di WordPress ini kan masing-masing punya rumah sendiri, punya halaman, punya peliharaan sendiri kadang-kadang punya tempat mesum sendiri, Lha kalo di Forum itu ibaratnya kost-kostan masal je… artinya tingkah laku bahkan kita tidurpun, be’ol di WC pun temen-temen yang lain bisa mengamati bahkan bisa didokumentasikan segala, hebohnya lagi kalo ada surat dari bini muda ato dapat kiriman Roti Martabak dari desa, Lha yang punya surat atau yang punya Roti enggak bisa apa-apa je, habis di keroyok dulu sama yang pada jaga pintu di luar…

Jadi dan seterusnya kok lama-lama asyik di WP ini, ciamik begitu, apalagi kalo saya lagi ndalang soal agama, banyak yang enggak tahan lalu ngajak gontok-gontokan … hi hi hi, padahal begitu menurutku enggak baik lho…

Btw…. Saya cuma lelaki biasa sama dengan yang manusia biasa tadi… Btw lagi…, Postingan ini disedoot dari musuh ghaib simbah yang piawai banget merangkai kata-kata soal MLM, so simbah yang oleh teman-teman dipanggil mbel (tapi saya lebih suka panggil dia dengan kolaborasi Mbah Umbel gitu, akhirnya beberapa bloger latah ikut manggil embah juga) weleh si embah langsung ter kapar dan cengengesan dengan kata-kata yang mengesankan :

…. Karena anda sudah berniat menagkhiri debat, sayah juga ndak berminat mendebat pernyataan sampean…. (Komen no #36) di sini Mbah Umbel ngomong gitu.

Terus gini lho kata2 si musuhnya Mbah Umbel itu, di sini

Written by asukowe

September 28, 2007 at 8:35 am

Ditulis dalam Tulisan Santai

Hukum Islam itu adil

with 2 comments

Pada dasarnya, seluruh agama diturunkan oleh Tuhan berdampak kedamaian manusia dari pertikaian dan kedzaliman dari dan terhadap sesamanya. Karenanya agama dilengkapi dengan seperangkat hukum yang diberlakukan bagi mereka yang meyakininya.

Sementara itu, hukum, sukar mudahnya, hidup matinya dan diterima atau ditolaknya oleh masyarakat tergantung pada asas dan tiang-tiang pokoknya. Jika asas dan tiang pokok hukum telah diterima maka masyarakat (biarpun majemuk) tidak perlu lagi berseteru, apakah suatu hukum diperlukan untuk menjaga ketenteraman hidup mereka atau tidak. Hukum dibuat bukan untuk memberatkan masyarakat, meski konsekuensi yang harus ditanggung adalah membebani masyarakat. Baca entri selengkapnya »

Written by asukowe

September 26, 2007 at 6:49 pm

Ditulis dalam Agama Islam

Berhala dengan nama Tuhan

with 26 comments

Kita sepertinya terperangkap pada teologi surga, “Teologi yang memberhalakan Tuhan, sehingga melakukan tindakan yang dianggap membahagiakan atau memulyakan Tuhan sah-sah saja, mulai dari hingar bingar pengeras suara setiap subuh yang melafdzkan ayat-ayat Al Quran, wirid, bahkan kasidahan di sebagian besar masjid di Indonesia (hal-hal yang tidak akan pernah terdengar di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah), menzalimi jemaah Ahmadiyah, merusak rumah ibadah penganut agama lain, membunuh orang-orang tidak bersalah, termasuk yang seagama seperti yang terjadi di Pakistan, Irak dan Darfour, Sudan”.

Dan kita juga menyangka kita membuat Tuhan tersenyum ketika menguber-nguber dan mengelandang para waria dan pelacur jalanan, menyumbat rezeki orang-orang lemah yang berjualan makanan di siang bulan Puasa, perempuan2 yang bekerja di tempat-tempat “maksiat” seperti bar, pub, panti pijat dan tentu saja rumah-rumah bordil. Sebahagian mungkin menyukai pekerjaan tersebut, tetapi sebagian karena tidak punya pilihan, tidak punya ijazah, kecuali wajah. Perut mereka, anak-anak mereka harus diisi.

Untuk menghormati Ramadan, sudut-sudut Kota harus dibersihkan dari “sampah masyarakat”. Tempat-tempat maksiat: bar, disko, panti pijat, pub dan sejenis harus ditutup. Di sini, terlihat sekali pemberian predikat “maksiat” sangat dangkal dan hanya menyentuh kulit. Tentu saja bukan berarti kita harus cuek saja terhadap para perempuan jalanan, jenis-jenis usaha yang tidak layak berdekatan dengan tempat-tempat ibadah dan pemukiman, membiarkan kaum perempuan mencari nafkan dengan menghinakan dirinya, tetapi jelas hal-hal tersebut tidak mungkin dipecahkan dengan terapi “babat habis” seperti itu.

Ingat cerita nabi dengan seorang lalaki :

Seorang lelaki menemui Rasulullah dan berkata: “Celaka-celaka, saya telah berhubungan badan dengan isteri ketika saya sedang puasa.” Beliau menjawab: “Apakah engkau mampu untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab: “Tidak” Beliau bertanya: Bisakah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah engkau mampu memberi makan enanpuluh orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak”. Beliau bersabda: “Duduklah!”.

Tidak lama kemudian Rasulullah membawa sekeranjang kurma, dan bersabda:” Di manakah yang bertanya tadi?” Ia menjawab: “Saya!” Beliau bersabda: “Ambillah sekeranjang kurma ini dan sedekahkanlah!” Maka orang tadi berkata: “Tidak ada orang yang lebih fakir dari pada keluarga saya wahai Rasulullah. Demi Allah, tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan di kampung kami kecuali keluargaku. Kemudian Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Berilah makan keluargamu!”

Subhanallah, ketika saya membaca hadis ini (saya temukan di buku yang ditulis Ibnu Qayim Al Jauzi, satu-satunya murid Mujahid dan Mujtahid besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, merupakan hadis Rawi Muttafaqalaih, yakni diriwayatkan dan disahihkan oleh Bukhari dan Muslim) dan sampai pada kalimat ketika Rasulullah, yang sambil tertawa bersabda: “Berilah makan keluargamu!”,” tak urung saya begitu tersentuh.

Bulan Ramadan adalah bulan penuh rakhmat. Tetapi Ramadan hampir selalu tidak berpihak kepada orang-orang malang yang sering disebut “sampah masyarakat” seperti pelacur jalanan, waria, dan kepada mereka yang mengais kehidupan di tempat yang umumnya disebut “tempat maksiat”, tetapi juga pedagang-pedagang kecil makanan, pedagang-pedagang nasi yang berjualan dengan gerobak, yang hasilnya bahkan tidak cukup untuk makanan sehari-hari.

Pertanyaannya kemudian ialah, di mana wajah Nabi pada perilaku umat waktu ini yang dengan tertawa menyuruh seorang pendosa yang sangat miskin agar menggunakan sekeranjang kurma yang beliau hadiahkan kepada sang pendosa membayar kifarat atas perbuatannya melakukan hubungan badan dengan isterinya yang merupakan perbuatan yang dilarang dalam bulan puasa, agar pendosa itu dan keluarga tidak kelaparan.

Di atas segalanya Hadis di atas kembali menegaskan pesan dan keteladanan yang sangat jelas dari Rasulullah, menyelamatkan kehidupan di atas penegakkan aturan Tuhan. Jangan karena alasan ingin membuat Tuhan bahagia kita berubah jadi manusia keji yang pada akhirnya bermutasi pada memberhalakan Tuhan.

Written by asukowe

September 25, 2007 at 7:27 am

Ditulis dalam Khusus Dewasa

Hilangkan agama di Bumi

with 17 comments

Berandai-andai, kalo aku punya kekuasaan menguasai dan menghancurkan agama lainnya, yang pasti dengan cara kekerasan dan peperangan, karena begitulah cara satu-satunya agar tidak ada agama lainnya. Hingga yang tersisa adalah salah satu agama yang ada saaat ini (bisa islam, bisa kristen, budha hindu konghucu kepercayaan ato yang lainnya).

Apakah dunia akan tentram?

Jawabnya tidak, sebab diantara orang banyak yang notabenenya satu agama tersebut pasti akan terpecah dengan begitu banyak versi Tafsiran ayat, berapa banyak tafsiran kata-kata yang tidak bisa dihitung jumlahnya, hingga mengakibatkan satu agama tersebut akan terpecah lagi, lalu walhasil berdebat dan bermusuhan lagi, pertumpahan darah lagi, hingga akan menyisakan satu versi tafsir saja, tetapi apakah satu versi tersebut akan bisa membuat kedamaian juga?

Oh ternyata tidak, sebab versi itu juga akan membelah lagi seperti amuba, ke berbagai banyak tafsiran lagi seperti semula, dan akhirnya perang lagi, tanpa henti, hingga semua manusia akan tercerai berai karena hal ini.

Jadi solusinya bukanlah obsesi menjadikan satu agama di bumi, tetapi justru hilangkanlah agama yang ada di bumi, dalam pengertian egonya. Dengan kita menghilangkan ego agama, artinya, ketika kita berhubungan dengan orang lain, hilangkanlah sentimen agama. Kita hanya punya satu tujuan mulia, yaitu hak asasi manusia, semakin banyak yang sadar akan hak asasi manusia, maka akan semakin baik hak asasi manusia tersebut dan bila muncul pola fikir baru, maka akan semakin baik juga hak asasi manusia itu jadinya.

Hak asasi manusia berbanding lurus dengan kecerdasan manusia, berbanding lurus dengan kebijaksanaan manusia, berbanding lurus dengan teknologi yang ramah lingkungan, berbanding lurus dengan teknologi yang saling menguntungkan manusia lainnya.

Berbeda bila teknologi larinya ke pola fikir agamis, maka teknologi cepat atau lambat digunakan untuk menghancurkan agama lain, lalu setelah agama lain hancur, maka gilirannya menghancurkan umat-umat yang berbeda pendapat di agamanya sendiri, lalu akhirnya akan menghancurkan diri sendiri.

Written by asukowe

September 24, 2007 at 8:34 am

Ditulis dalam Buat direnungkan

Komik Doraemon tamat !

with 76 comments

Apa sudah tahu kalo komik DORAEMON tamat?

Terharu kalo buka lagi koleksi arsip yang 1 ini. Jadi ingat, waktu kecil film dan komiknya bener2 udah mengisi hati dan hidupku… bahkan berkhayal kalo suatu saat aku punya teman patner spt doraemon. Bisa nego ke masa lalu, liat masa depan… jalan-jalan ke arab mesir dengan pintu ajaib, melancong ke mars.. pluto…

Baca komiknya 7 halaman di —> SINI (butuh koneksi Net yang lumayan buat buka ceritanya, sabar aja bagi yg fakir Bandwith)

Thanks a lot…

Pas teman gamerku yg paling dekat mati, aku masih bisa tertawa ngakak. Tapi hanya dengan membaca potongan manga yang ga lebih dari 7 halaman ini, aku tersentuh di akhir cerita….., semua kenangan masa kecil waktu asik-asiknya main-main jadi inmemoriam, masa lalu waktu masih cuma bisa mikir soal jajan es sama bikin PR sekolah. Masa waktu semua masih sederhana lugu primitif dan jujur…

Love it !!!

Written by asukowe

September 23, 2007 at 10:05 am

Ditulis dalam Amazing Bro !

10 doktrin yg melahirkan muslim sombong!

with 80 comments

(1) Doktrin bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah. Doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible” , tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal.

(2) Doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat: Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “hallmark” dari sekte Ahlussunnah waljamaah di mana-mana, sepanjang sejarah. Doktrin ini sebetulnya kurang perlu dan menjadi alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status quo. Sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu. Islam tidak berkurang nilainya sebagai agama jika doktrin ini dihilangkan.

(3) Doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh muslim jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?

(4) Doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini tertanam kuat dala psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” sebuah agama. Kehadiran agama tidak terlalu penting dipandang sebagai “negasi” atas agama lain. Agama-agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitulah seterusnya.

(5) Doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah dengan rajin kerap dipandang lebih “Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan (Ex : Bunda Teresa), hanya karena mereka tidak beribadah secara rutin. Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdian kepada kemanusiaan.

(6) Doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Islam atau agama orang berangkutan adalah “kafir”. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam semua agama. Semua agama cenderung memandang bahwa mereka yang ada di luar “lingkaran penyelamatan” adalah domba-domba sesat. Doktrin ini, sekali lagi, cerminan dari arogansi sebuah agama tertentu. Sudah jelas bahwa jalan keselamatan adalah banyak sekali.

(7) Berkaitan dengan doktrin sebelumya, ada doktrin lain yang biasanya bekerja dalam lingkaran internal masing-masing agama. Dalam Islam, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan” , al-firqah al-najiyah. Kelomok yang menyebut dirinya ahlussunnah wal-jamaah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masuk sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat, selebihnya sesat. Doktrin ini diteruskan oleh MUI dalam bentuk lain melalui fatwa penyesatan. Mendaku bahwa yang selamat hanya lingkaran tertentu adalah sebentuk arogansi.

(8) Doktrin bahwa jika Kitab Suci mengatakan A, maka seluruh usaha rasioanal harus berhenti. Kitab Suci adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan tak mungkin salah. Oleh karena itu, jika Tuhan sudah mengeluarkan sebuah “dekrit”, maka seluruh perbincangan harus berhenti. Doktrin ini tercermin dalam sebuah “legal maxim” atau kaidah hukum dalam teori hukum Islam yang berbunyi, “la ijtihada fi mahal al-nass”, tidak ada “independent reasoning” dalam hal-hal di mana teks Kitab Suci sudah mempunyai kata putus. Dengan kata lain, ijtihad harus dihentikan jika Kitab Suci sudah
memutuskan sesuatu. Dalam diskursus filsafat modern di Amerika, hal ini disebut sebagai “discussion stopper”, agama sebagai penghenti diskusi. Sudah jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda.

(9) Doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh “syari'” atau legislator. Yang disebut legislator dalam konteks Islam adalah Tuhan, kemudian secara derivatif juga Nabi Muhammad. Para ulama atau fukaha datang belakangan sebagai penafsir atas hukum itu, dan pelan-pelan juga menempati kedudukan sebagai “pembuat hukum” atau legislator hukum agama. Doktrin ini sangat kuat tertanam dalam Islam. Doktrin ini juga kuat tertanam dalam agama Yahudi. Deklarasi Qur’an sudah sangat jelas dan sangat “kategorikal” , bahwa Adam dan seluruh keturunannya adalah “khalifah” di muka bumi. “Kekhilafahan” di sini, dalam tafsiran mencakup pula kompetensi untuk menciptakan hukum yang mengatur ketertiban di muka bumi ini. Seluruh individu, dalam pandangan Islam yang saya pahami, adalah obyek dan subyek hukum sekaligus. Dengan kata lain, hukum bukan hanya diciptakan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia. Manusia secara generis adalah syari’, bukan saja Nabi atau ulama/fukaha. Ini paralel dengan konsep “kewarganegaraan modern” di mana konsep “warga negara” mencakup secara intrinsik kemampun untuk membuat dan men-generate sebuah hukum. Jika ada kelebihan pada ahli hukum atau fukaha yang membuat mereka menjadi spesial kedudukannya adalah karena mereka mempunyai “training” untuk merumuskan sebuah hukum dalam prosedur yang standar. Tetapi sumber hukum bukan saja hanya ada pada Kutab Suci, sabda-sabda Nabi, atau pendapat ulama, tetapi juga manusia secara keseluruhan.

(10) Doktrin bahwa Islam bisa menjawab semua masalah. Doktrin ini jelas hanya retorika belaka. Sebab pada kenyataannya tidak demikian. Solusi agama atau Islam, jika pun ada, juga tidak mesti sukses dan berhasil. Sebagaimana solusi-solusi sekuler, solusi Islam juga bisa gagal, seperti terbukti dalam banyak kasus.

Written by asukowe

September 23, 2007 at 9:04 am

Ditulis dalam Khusus Dewasa