Alkisah, sepasang merpati yang sedang bertengger di cabang pohon melihat seorang alim datang dengan sebuah buku yang dikepit di satu tangan dan tongkat di tangan yang lain. Seekor merpati berkata pada yang lain, “Mari terbang, orang itu bisa membunuh kita.” Pasangannya menyahut, “Dia bukan pemburu. Dia seorang ulama, tidak akan membahayakan kita.”
Sang ulama melihat keberadaannya dan seketika memukulkan tongkatnya ke merpati betina, lantas ia sembelih agar dagingnya menjadi halal. Merasa dizalimi, pasangannya mengadu kepada Nabi Sulaiman.
Ulama itu pun dipanggil ke istana. “Kejahatan mana yang saya lakukan?” sanggahnya. “Bukannya daging merpati itu halal,” lanjutnya. Merpati jantan menimpal, “Saya tahu bahwa hal itu halal bagimu. Tetapi, jika datang untuk berburu, engkau semestinya mengenakan pakaian seorang pemburu. Engkau curang dan datang sebagai ulama.”
Seorang ulama atau intelektual memang telanjur dinisbatkan sebagai sosok pelindung kemaslahatan umum. Nalarnya memberi lentera di kegelapan; nuraninya memberi oasis di tengah-tengah krisis keyakinan. Tetapi, dalam realitas hari ini, banyak orang berpakaian ulama/intelektual tapi dengan peran yang telah ditanggalkan.
Pierre Bourdieu menulis tentang keharusan politisi untuk berperilaku bak ilmuwan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah yang berbasis fakta dan bukti. Hal ini penting agar kebijakan yang diambil tidak semata-mata karena pertimbangan politis dan ideologis yang bisa membayakan realitas kehidupan publik.
Ironisnya, Joseph Stiglitz menengarai situasi paradoks yang kerap terjadi; bahwa para ilmuwan/intelektual sendiri justru berperilaku bak politisi. Ketika mereka terlibat dalam proses pembuatan rekomendasi kebijakan, argumen-argumennya lebih padat politisasi dengan mengabaikan fakta dan bukti demi menyenangkan para politisi yang dilayaninya.
Dalam ketundukan logika intelektual pada nalar politisi, intelektual dalam kekuasaan cuma stempel karet untuk membenarkan penyalahgunaan kekuasaan. Dalih-dalih mereka akan segera menyahihkan apa yang pernah dikatakan Joseph Stalin, “One death is a tragedy, one million is statistic.“
Kliping game lover tahun 2006 cuplikan dari Dr Yudi Latief