Arsip untukBuat direnungkan

Jilbab itu Budaya Kenapa Harus Wajib ?

Artikel ini saya sangat menyukainya, so saya taruh aja di sini


Jilbab berasal dari daerah Timur Tengah (Middle East), banyak orang di daerah gurun tersebut, seperti yahudi,
iran, israel, irak, dan sekitarnya bahkan daerah gurun di asia (gurun gobi), banyak juga yang memakai jilbab. Budaya menggunakan pelindung muka, pelindung rambut, leher dan baju langsung (kurung) sangat disukai didaerah gurun.

Mengapa? sebab memudahkan mereka untuk membersihkan pasir yang menempel di tubuh, di wajah, di rambut, di leher dan bahkan dimata (menggunakan cadar/kacamata). Jilbab tidak hanya dipakai oleh orang islam, selain islam-pun boleh memakainya bila mereka di daerah gurun pasir seperti itu. Dan terkadang karena sudah merupakan pakaian sehari-hari, yang menjadi kebiasaan turun-temurun, maka jilbab menjadi suatu budaya (culture)

Jilbab-pun sebenarnya tidak hanya untuk wanita, sebab pria dinegara gurun-pun memakainya. Lalu mengapa orang-orang yang tidak tinggal di negara gurun dan bukan orang timur tengah lalu memakai jilbab?
… continue reading this entry.

Ada yang bilang Agama itu seperti istri tetangga, aku bilang Agama hanyalah baju

Forwarded Message :

Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.

Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu. Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. “Apakah anda semua punya tetangga?” wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : “Tentu saja punya”. … continue reading this entry.

Apakah Kejahatan diciptakan Tuhan?

Apakah dingin itu ada?

Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Apakah gelap itu ada?

Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi kita tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Apakah kejahatan itu ada?

Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap,  kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.

Albert Einstein.

Hilangkan agama di Bumi

Berandai-andai, kalo aku punya kekuasaan menguasai dan menghancurkan agama lainnya, yang pasti dengan cara kekerasan dan peperangan, karena begitulah cara satu-satunya agar tidak ada agama lainnya. Hingga yang tersisa adalah salah satu agama yang ada saaat ini (bisa islam, bisa kristen, budha hindu konghucu kepercayaan ato yang lainnya).

Apakah dunia akan tentram?

Jawabnya tidak, sebab diantara orang banyak yang notabenenya satu agama tersebut pasti akan terpecah dengan begitu banyak versi Tafsiran ayat, berapa banyak tafsiran kata-kata yang tidak bisa dihitung jumlahnya, hingga mengakibatkan satu agama tersebut akan terpecah lagi, lalu walhasil berdebat dan bermusuhan lagi, pertumpahan darah lagi, hingga akan menyisakan satu versi tafsir saja, tetapi apakah satu versi tersebut akan bisa membuat kedamaian juga?

Oh ternyata tidak, sebab versi itu juga akan membelah lagi seperti amuba, ke berbagai banyak tafsiran lagi seperti semula, dan akhirnya perang lagi, tanpa henti, hingga semua manusia akan tercerai berai karena hal ini.

Jadi solusinya bukanlah obsesi menjadikan satu agama di bumi, tetapi justru hilangkanlah agama yang ada di bumi, dalam pengertian egonya. Dengan kita menghilangkan ego agama, artinya, ketika kita berhubungan dengan orang lain, hilangkanlah sentimen agama. Kita hanya punya satu tujuan mulia, yaitu hak asasi manusia, semakin banyak yang sadar akan hak asasi manusia, maka akan semakin baik hak asasi manusia tersebut dan bila muncul pola fikir baru, maka akan semakin baik juga hak asasi manusia itu jadinya.

Hak asasi manusia berbanding lurus dengan kecerdasan manusia, berbanding lurus dengan kebijaksanaan manusia, berbanding lurus dengan teknologi yang ramah lingkungan, berbanding lurus dengan teknologi yang saling menguntungkan manusia lainnya.

Berbeda bila teknologi larinya ke pola fikir agamis, maka teknologi cepat atau lambat digunakan untuk menghancurkan agama lain, lalu setelah agama lain hancur, maka gilirannya menghancurkan umat-umat yang berbeda pendapat di agamanya sendiri, lalu akhirnya akan menghancurkan diri sendiri.

Contoh bagus : Tadarus Tengah Malam di Ternate dilarang!!!

Ramadhan, biasanya mudah terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran di mana-mana. Bahkan sampai malam. Tapi di Ternate justru dilarang. Knapa?

Bulan Suci Ramadhan pasti identik dengan Tadarus atau pengajian terutama di malam hari selepas shalat Tarawih hingga menjelang subuh. Baik di masjid, mushallah, surau, langgar, maupun di rumah-rumah, orang seakan-akan berlomba untuk membentuk kelompok-kelompok pengajian.

Tapi rupanya, meski ritual tersebut adalah bagian dari ibadah, tidak berarti bisa bebas begitu saja. Buktinya, di Ternate, Maluku Utara, tadarusan dilarang melewati jam 24 atau pukul 12 malam. Mengapa?

Ternyata bukan tadarusnya yang dilarang melainkan penggunaan alat pengeras suara. Jadi orang bebas bertadarus kapanpun, tapi jika sudah diatas jam tersebut, tidak diperbolehkan lagi menggunakan pengeras suara, terutama di masjid-masjid atau mushallah.

Sebagai kota dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam mencapai 95 persen, cukup banyak masjid dan mushallah yang bertaburan. Bahkan dalam satu kelurahan saja, bisa sampai dua atau tiga masjid yang jaraknya sangat berdekatan. Itu belum termasuk mushallahnya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana ”bisingnya” jika seluruh masjid dan mushallah tersebut saling berlomba menggunakan pengeras suara saat bertadarus.

Dari situlah, Departemen Agama (Depag) Propinsi Maluku Utara membuat edaran yang isinya mengimbau agar diatas jam malam tersebut, tadarus agar tidak menggunakan pegeras suara lagi. Hal ini memang sempat mendapat reaksi pro kontra dari masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, seluruh lapisan masyarakat bisa menerima hal itu.

baca selangkapnya di sini

Hati-hati dengan Muslim yang tidak paham

Beberapa postingan saya sebenarnya mengacu pada dialog dengan Gus Dur, soal celana panjang, soal jihad, puasa, soal musik dan gambar yang haram, soal bingungnya seseorang dengan nick aku tentang radikalisme, soal bid’ah mudah2an bisa dicerahkan deengan membaca tajuk ini.

Agama akan menjadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan kemanusiaan. Tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya. Itu penggunaan agama yang salah.

Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat orang-orang berani mengambil-alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan. Demikian refleksi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagaimana dituturkannya berulang-ulang kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Radio 68H, Jakarta.

Keberagamaan umat Islam saat ini sering dikaitkan dengan radikalisme dan kekerasan. Apa yang salah menurut Gus Dur?

Saya rasa persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya—saya tidak memihak paham mana pun, baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apapun—adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.

Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?

Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya saja, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga. Jadi dengan begitu, kita tidak boleh serta-merta memberikan judgement, pertimbangan, penilaian. Jangan! Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling keras.

Menentang pemerintahan yang zalim, yang menyengsarakan rakyat, apakah bisa disebut jihad, Gus?

Sekarang kita tetapkan dulu: pengertian jihad itu apa? Jihad adalah berperang di jalan Allah. Kalau tidak begitu, ya, berarti jihad dalam pengertian lain. Ada banyak macam jihad, yaitu jihad ashghar (terkecil), shâghîr (kecil), kabîr (besar), dan akbar (terbesar). Ayatullah Khomaini pernah mengatakan bahwa jihad ashghar, atau jihad yang terkecil adalah menegakkan keadilan. Tapi itu tergantung niat Anda juga.

Kalau niat Anda berjihad kecil hanya untuk merobohkan pemerintahan, hasilnya ya, merobohkan pemerintahan saja. Di sini kita bisa kiaskan dengan ungkapan Alquran yang menyebutkan itu tergantung pada orangnya. Kalau seseorang mau hijrah karena Allah dan utusan-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan utusan-Nya. Tapi kalau hijrahnya demi harta benda atau perempuan yang akan dinikahi, ya, hijrahnya akan sampai pada apa yang akan dia hijrai itu.

Sama saja dengan cara kita dalam menilai jihad. Luarnya bisa saja seperti jihad; tapi dalamnya kita nggak tahu. Makanya jangan gegabah dalam soal ini. Nggak gampang (menilainya, Red).

Bagaimana menentukan sikap Islam yang benar dalam kompleksitas kehidupan dunia ini?

Sikap Islam yang benar adalah sikap yang sesuai dengan ajaran pokok Islam. Ajaran pokok Islam ialah: Tuhan itu satu. Jadi kita dituntut untuk mematuhi ajaran Tuhan, saling kasih mengasihi, dan sebagainya. Kita harus saling kasih mengasihi antarmanusia. Kalau mau lebih disempurnakan, ya silahkan. Itu kan urusan masing-masing. Tapi kalau ada orang yang berpendirian lain, ya nggak apa-apa juga.

Mana yang lebih baik antara undang-undang buatan manusia dengan apa yang sering disebut ”hukum Tuhan” oleh sebagian aktivis Islam selama ini?

Yang perlu dilihat itu segi pemakaiannya, jangan bikinannya. Quran itu memang bikinan Tuhan, dan kita pakai pada saatnya. Sedangkan undang-undang dasar itu buatan manusia, dan kita pakai juga pada tempatnya. Dalam kehidupan bernegara, kita pakai undang-undang dasar. Dalam kehidupan bermasyarakat kita menggunakan undang-undang Alqur’an. Begitu saja kok nggak tahu?!

Nah, merupakan kewajiban pemimpin Islam untuk menjelaskan itu supaya jangan ada kekeliruan. Undang-undang dasar itu memang buatan manusia; jadi kapan saja mau diubah, ya bisa saja. Kalau Alquran, penafsirannyalah yang dari waktu ke waktu berubah; dan itu juga diakui oleh Alquran sendiri.

Bagaimana Gus Dur menafsirkan ungkapan Alquran innaddîna ‘indalLâhil islâm?

Artinya begini: sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Tapi itu kan katanya orang Islam, toh?! Ya sudah, selesai! Itu kan juga kata kitab sucinya orang Islam. Makanya, kalau orang Islam bilang begitu, ya pantas-pantas saja. Sama saja ketika agama lain mengatakan “Ikutilah aku!” Itu kata Yesus. Nah, soalnya tinggal kita ikuti atau tidak. Itu saja.

Islam seperti apa yang paling utama bagi Gus Dur?

Yang paling utama bukan Islam golongan, tapi orang Islam. Ingat loh, antara institusi agama dengan manusianya itu berbeda. Perbedaannya sangat jauh; ada yang ikhlas, ada yang cari pangkat, cari kedudukan, cari kekayaan, dan lain sebagainya. Jadi, sangat susah menilai dan mengatakan Islam mana yang paling baik. Saya saja nggak berani ngakui kalau Islam saya yang paling benar. Sebisa-bisanya saya jalani saja.

Lalu bagaimana Gus Dur mendefenisikan istilah kafir?

Mengenai pengertian kafir, muballigh kayak Yusril Ihza Mahendra saja–menteri kita itu—nggak tahu. Dulu dia pernah bilang, “Saya kecewa pada Gus Dur yang terlalu dekat dengan orang kristen dan Yahudi. Padahal, Alquran mengatakan, tandanya muslim yang baik adalah asyiddâ’u`‘alal kuffâr (tegas terhadap orang-orang kafir, Red).” Terus saya balik tanya, “Yang kafir itu siapa?”

Menurut Alquran, orang Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi digolongkan sebagai ahlul kitab. Yang dibilang kafir oleh Alquran adalah ”orang-orang musyrik Mekkah, orang yang syirik, politeis Mekkah”. Sementara di dalam fikih, orang yang tidak beragama Islam itu juga disebut kafir. Itu kan beda lagi. Jadi, kita jelaskan dulu, istilah mana yang kita pakai.

Banyak sekali soal khilafiah di dalam masyarakat dalam menafsirkan agama yang satu sekalipun. Apa kriteria perbedaan yang membawa rahmat itu, Gus?

Dulu, ada perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU soal tarawih dua puluh tiga rekaat atau sebelas. Kan begitu?! Semua itu sama-sama boleh. Jadi, jangan ribut hanya karena masalah seperti itu. Yang harus kita selesaikan adalah masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan sebagainya. Tapi itu malah yang nggak pernah diurusi. Malah yang diributkan tentang shalatnya bagaimana; sebelas rekaat atau berapa. Itu kan bukan masalah yang serius?!

Bagaimana membuat Islam sebagai rahmat, bukan malah mendatangkan laknat?

Agama akan menjadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan kemanusiaan. Tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya. Itu penggunaan agama yang salah. Contohnya, perlunya agama terlibat langsung dalam isu lingkungan hidup. Itu sangat jelas, karena lingkungan hidup sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan.

Isu itu merupakan kebaikan yang menyangkut langsung tentang kemaslahatan hidup. Makanya, di sini kita rumuskan dengan nama keyakinan. Kalau keyakinan itu untuk kemaslahatan semua, berarti itu agama. Tapi kalau tidak, ya namanya kepentingan kelompok. Jadi harus dibedakan antara kepentingan agama secara umum dengan kepentingan kelompok.

Sekarang ini agama tampaknya hadir kembali ke ruang publik dalam bentuk partai-partai dan kelompok-kelompok sektarian. Itu makin memperkental identitas kelompok. Bagaimana tanggapan Gus Dur?

Ya, nggak apa-apa. Disebut atau tidak agamanya, sama saja. Yang penting agendanya untuk kepentingan kemanusiaan secara umum. Yang menjadi pokok, untuk kepentingan siapa dia bekerja? Kalau untuk kepentingan kelompok yang bersangkutan, itu namanya bukan agama. Bagi saya, agama itu harus hadir untuk semua golongan.

Di Alquran juga ada pengertian mengenai hal ini. Tanda-tanda atau bukti-bukti kehadiran Tuhan, adalah jika yang bersangkutan mengharapkan kerelaan Tuhan, bukan untuk dirinya sendiri. Kalau begitu, ya bukan juga demi mengharap masuk surga. Tapi karena kerelaan. Kemudian untuk kebahagiaan akhirat nanti.

Tanda-tanda kebesaran Allah itu ada dimana-mana; ada yang secara lafzi atau kata-kata, dan ada yang secara keadaan. Laqad kâna lakum fî rasûlilLâhi uswatun hasanah, liman kâna yarjulLâha wa yaumil âkhir wa dzakaralLâha katsîra (Rasulullah telah dijadikan panutan yang baik bagi orang-orang yang berharap (keridaan) Allah dan hari akhir dan mereka yang banyak-banyak mengingat Allah, Red). Itu kata Alquran.

Mengapa ada kelompok Islam yang ingin ajaran-ajaran spesifik Islam diatur dalam hukum negara, seperti kewajiban berjilbab dan lain-lain?

Pemikiran seperti itu sebetulnya bersifat defensif. Artinya, mereka takut kalau Islam hilang dari muka bumi. Itu namanya defensif; pake takut-takutan. Sebenarnya, nggak perlu ada rasa ketakutan seperti itu. Mestinya, hanya urusan-urusan kemanusiaan yang perlu kita pegang. Adapun soal caranya, terserah masing-masing saja. Jadi orang Islam nggak perlu takut (Islam lenyap, Red).

Coba saja bayangkan: dulu Islam berasal dari komunitas yang sangat kecil. Tapi sekarang, Islam jadi agama dunia. Agama Buddha dulu juga demikian, Kristen juga demikian. Orang Kristen dulu dimakan macan; nggak bisa apa-apa. Sama rajanya diadu dengan tangan kosong, bahkan diadu dengan singa. Toh sekarang agama Kristen jadi agama yang merdeka di mana-mana.

Begitu juga dengan Islam. Jadi, tidak usah diambil pusing. Di negara Republik Rakyat Cina (RRC) yang katanya tak bertuhan, agama Konghucu atau Buddha, dalam kenyataannya tetap ada dan berkembang walau secara sembunyi-sembunyi.

Mengapa sering terjadi benturan klaim kebenaran antar agama-agama, bahkan dalam satu rumpun agama yang sama?

Karena kita berani-beraninya mengambil alih jabatan Tuhan, fungsinya Tuhan, kerjaannya Tuhan. Emangnya kita siapa, kok berani-beraninya?! Nggak ada yang lebih tinggi dari pada yang lain. Yang lebih tinggi dan lebih besar dari segalanya hanya Tuhan

Bagaimana Gus Dur memaknai ajakan berislam secara kâffah atau total?

Islam kâffah itu maksudnya adalah Islam yang memperlakukan manusia sebagai manusia yang utuh. Jadi kalimat udkhulû fis silmi kâffah itu bukan menyangkut ajaran Islamnya, tapi soal masuknya yang kâffah. Artinya, masuk ke sana dalam perdamaian yang total. Kalau dengan kebencian atau apalah, itu nggak total namanya.

Ada yang bilang, yang tidak sudi menjalankan hukum-hukum Islam pada level negara, tidak kâffah Islamnya. Mereka dianggap kafir. Pandangan Gus Dur?

Ada hal-hal yang prinsipil dalam Islam, dan tidak semuanya lantas pantas dikafirkan. Alquran juga menyatakan bahwa “pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, dan telah Kusempurnakan pemberian nikmat-Ku kepada kalian, dan Kujadikan Islam sebagai agama kalian”. Nah, kesempurnaan di situ menyangkut hal-hal yang prinsipil. Begitulah pemahamannya. Jangan kita salah paham terus.

Ada cerita tentang orang yang suka salah paham, persis seperti jemaah haji Indonesia yang bingung ketika di Mekkah. Soalnya, setiap nyegat bis, kernetnya selalu teriak-teriak: “Haram…! Haram..!” Akhirnya, dia tak mau naik, karena takut dibilang haram. Lalu dia nungguin bis sampai sore sampai mendengar yang bilang “halal…! halal…!” Kan susah menghadapi orang yang suka salah paham gitu?! Kata ”Haram” itu dia pahami sebagai sesuatu yang dilarang agama. Padahal, maksudnya adalah jurusan Masjidil Haram, hehe.

Ada kesan umat Islam memusuhi seni rupa. Jangankan menggambar sosok nabi, menggambar makhluk bernyawa saja dikecam. Bagaiman Islam memandang seni rupa, Gus?

Dulu ada KH. Ahmad Mutamakkin dari Pati. Dia dituduh para ulama fikih di daerahnya telah mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam. Kenapa? Dia membiarkan adanya gambar gajah dan ular di tembok masjid. Lalu tuduhan bertambah: dia anti Islam, karena suka menonton wayang kulit lakon Dewa Ruci. Kata yang menuduhnya: orang Islam kok percaya dewa-dewi?!

Memangnya kenapa; untuk nonton saja nggak boleh?! Dari sana dia kan bisa mengambil teori-teori yang dia tidak cocok. Untuk itu, kita ini jangan gampang-gampang bereaksi, apalagi menganggap orang lain itu kafir.

Bagaimana hubungan Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia selama ini, Gus?

Antara agama Buddha dan Islam di Nusantara, banyak sekali persamaan-persamaannya. Di antaranya ketika Islam (di Indonesia, dan yang lebih khusus Islam tradisional), disebarkan lewat tradisi. Di antaranya tradisi syair yang ditempuh Sunan Kalijaga. Tembangnya sampai sekarang masih terkenal, yaitu tembang Lir Ilir. Persamaan lainnya adalah dalam hal penjagaan tradisi. Agama Islam dan Buddha sama-sama mengagungkan tradisi unggah-ungguh antara yang muda dengan yang lebih tua. Dalam hal ini, budaya-budaya timur sangat sinkron dengan kedua agama itu.

Tapi permasalahnnya, di level nasional banyak permasalahan yang tidak sepadan antara budaya-budaya timur—dalam artian budaya kerakyatan—dengan budaya Indonesia di tingkat nasional yang tampak kebarat-baratan. Misalanya masalah aurat. Bagi masyarakat pedasaan, jika berpakaian sudah rapi dengan kerudung, walau menggunakan kerudung yang transparan, itu dianggap sudah menutup aurat. Tetapi di level nasional, ada yang mengatakan itu masih belum mencapai batas maksimal penutupan aurat. Di sini timbul masalah.

Sama seperti kasus ciuman. Bagi orang-orang di level nasional, cium pipi itu sudah merupakan hal yang wajar. Tapi bagi masyarakat pedesaan, itu hal yang tidak wajar, karena salaman dengan lawan jenis saja sudah dianggap fitnah. Lalu bagaimana agama menjembatani tradisi-tradisi yang berbeda antara tradisi yang di atas dengan tradisi yang di bawah ini?

Caranya adalah dengan menjamin hak-hak orang untuk melakukan penafsiran. Jangan asal berbeda sedikit dimarahi. Gendeng, apa?! Ya, memang kita nggak bisa memaksakan hal yang lampau dengan yang sekarang, bukan hanya soal yang bawah dengan yang atas. Zamannya mbah saya dulu, pakai sarung adalah harus. Dulu, kaidah NU adalah: man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (siapa yang menyerupai sebuah kaum, dia termasuk kaum itu). Kalau pakai celana, berarti orang Barat, dong! Begitu, toh?! Tapi, sekarang kan sudah lain. Semua itu perlu peran agama untuk terus-menerus mendialogkan; mempersoalkan terus tanpa mengganggu undang-undang.

Apa kuncinya agar usaha dan doa kita terkabul, Gus?

Kuncinya, ya ikhlas. Kalau nggak terkabul, artinya Anda nggak ikhlas. Simpel saja. Makanya Ibnu Atha’ al-Iskandari penulis al- Hikam berkata, idfin wujûdaka fî ’ardlil khumûl (kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan, Red). Maksudnya, kita harus benar-benar kosong supaya tak punya keinginan apa-apa. Susahnya, orang berdoa itu kan banyak pengennya. Ini celakanya. Makanya, kalau kita berdoa, jangan minta apa-apa; terserah Tuhan sajalah. Pokoknya yang terbaik menurut Tuhan saja.

Apa gunanya kehendak dan doa jika segalanya sudah ditentukan Tuhan?

Dalam pandangan Islam, manusia boleh menghendaki apa saja, tetapi yang menentukan jawaban ”ya” atau ”tidak”, ya Tuhan. Ungkapan yang dikenal yaitu, “AlLâhu yurîd, wan nâs yurîd, walLâhu fa`âllun limâ yurîd” (Allah berkehendak, manusia juga berkehendak, tetapi hanya Allah yang mewujudkan apa yang Ia kehendaki). Jadi, prinsip berdoa adalah meminta kepada Tuhan supaya Dia mengabulkan.

Semoga bermanfaat, sekali lagi Islam adalah agama yang penuh kedamaian, bukan agama keras dan penuh kekerasan. Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat orang-orang berani mengambil-alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan, jadi bagaimana kita berusaha meminimalkan benturan itu menjadi sifat yang toleran dan welas asih terhadap sesama, membenarkan yang salah dengan hati dan akal sehat, dengan opini otak yang cerdas dan cendekiawan bukan dengan okol tangan atau senjata, membangunkan kaum Muslim yang tertidur dengan trik-trik yang memaksa mereka berpikir supaya mereka terpaksa giat belajar, Jangan cuma puas sebagai sampah yang bangga dgn fatwa-fatwa yang seolah lahir dari ogoisme belaka. Sekarang ini kita adalah mayoritas di dunia, bagaimana bila kita jadi yang minor. Masihkah kita berani vokal berjubah hadist dan AQ (padahal ilmu mereka nol!) dengan mengesampingkan hati dan akal sehat?

Kalau asu belajar Agama (Mumpung mau Ramadhan)

Apa jadinya bila (Asu) belajar agama, sebentar lg Ramadhan, ini adalah hasil aku duduk diam selama 2 jam di depan monitor, contek sana contek sini, iqro’ iqro’ dan iqro’… lalu nulis postingan ala kadarnya seperti ini :

Ada kalanya cara yang dipakai pada zaman Rosulullah masih hidup jika terapkan di zaman modern sekarang sepertinya kurang cocok, sebagai contoh jika kita mau melaksanakan sholat, waktu dulu Nabi mencontohkan menggunakan siwak untuk membersihkan giginya, coba kita lihat di zaman sekarang terutama di kota-kota besar hampir 90% orang tidak ada yang memakai siwak mereka lebih memilih cara yang modern yaitu dengan memakai sikat gigi dan pasta gigi (odol) untuk membersihkan giginya, malahan ada yang memakai sikat gigi yang lebih canggih yaitu sikat gigi mesin yang bisa mutar sendiri tanpa harus capai-capai mengerakan tangan. Sebab bukan “siwaknya” yang dianjurkan Nabi tapi kebersihan mulut dan giginya yang di sunahkan Nabi, jadi metodenya juga bisa bermacam-macam mengikuti zaman. Lha boleh saja kan pakai sogok WC seandainya itu bersih dan membersihkan gigi kita? kok repot… konon katanya menyentuh diriku (asu) itu najis haram dan mencucinya harus 7 kali dan yg pertama kali dengan tanah atau pasir. Apa masih ada yg dengan sukarela melakukannya? bukankah sekarang sudah ada sabun LUX?

Soal Zina, Semua kesalahan termasuk perzinahan hukumnya dipukul rata saja dengan cambukan. Dengan mengambil hukum syariah islam, pezinah itu di cambuk kalau belum menikah dan bisa juga di rajam sampai ke qisas. Mencambuknya dipunggung, kan itu bahaya ..?! bisa bisa kena salah satu syaraf dan mengakibatkan lumpuh, padahal bisa jadi level kesalahannya tidak seberat itu hukumannya, dengar2 di aceh itu sudah terjadi dengan salah seorang penerima cambukan, dan sekarang dia lumpuh.

Sebenarnya kan bukan mempermasalahkan cambuknya. Seharusnya kan boleh saja dicambuknya di (maaf… asu belajar sopan) pantat/bokong, itupun dengan perhitungan yang tepat, tidak mencederai secara fatal tetapi menjadikan efek jera malu atau dipermalukan. Itulah Sunatullah yang berlaku dan terus akan berkembang dan berkembang mengikuti Sunatullah itu sendiri, begitu juga hukum cambuk. Mungkin mengapa akhirnya dinegara kita lebih memilih hukuman penjara ketimbang hukuman cambuk?, tentunya salah satu alasannya mungkin itu, sama aja kan? malu dan dipermalukan. Sayangnya aku kurang begitu paham soal cambuk2an ini, padahal seringkali kalau jalan2 sore banyak aku lihat di sawah2 itu temen2ku yang namanya sapi dan kebo dicambuk2 yg empunya… mungkin saja karena mereka ketahuan zina, kumpul kebo ato kumpul sapi mungkin oleh Pak tani.

Terus adalagi gini, orang begitu mengagung agungkan sunah rosul dan sampai-sampai memaksakan diri di jaman sekarang : soal celana… seringkali beberapa temenku yang berjenggot mengingatkanku soal perihal memakai celana jeans (enggak sesuai sunah nabi katanya : “Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari]) apalagi ditambah embel-embel : Jeans adalah produk kafir (Negara Barat) wih, makin ngeri!!. “Jauhilah Isbal (Isbal adalah perbuatan haram dan mungkar, sama saja apakah hal itu terjadi pada gamis atau sarung. Dan Isbal adalah yang melewati kedua mata kaki berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam) olehmu, karena itu termasuk kesombongan.” [Hadits Riwayat Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih]

Apakah setiap apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pasti secara otomatis menjadi bagian dari syariat agama islam? dan bila tidak melakukannya jadi gunjingan dan menjadikan seteru permusuhan? Mungkin karena jaman dahulu belum ada celana, mode celana waktu itu adalah jubah. Jadi masuk akal kalau pakai jubah mesti gak boleh kombor-kombor sampai menyentuh tanah, lha kalau jubahnya putih… kan semakin kentara tuh kotornya kena tanah apalagi kena tahi ayam ato malah tahi kebo?, nah kan? makanya dibuat aturan seperti itu. Syukurnya dan untungnya Nabi kok enggak lahir dan berdakwah di Jawa (Yogya gitu lho), lha kalau kejadiannya bener kan repot tuh mesti pakai blankon sama Jarik tenun… atau di Irian Jaya? jadi rasa aneh kalo Osama bin Laden memakai Blankon

Jihad jaman sekarang….

~Kalau anda melihat kebatilan, luruskan dengan tanganmu (kekuatan), Kalau tdk bisa, dengan lisanmu, kalau tidak bisa, dengan hatimu dan itulah selemah – lemahnya iman~

Setuju!!! tapi mbok caranya yg benar, tidak membabi buta, jangan sok mati sahid (sudah tahu jantungan kok ya ikut perang) yang gentleman lalu yang rasional dan pakai akal sehat bahkan pakai IQ yg cendekiawan, sudah tahu musuh senjata di gudang selusin rudal, lha kok macem2 datang memerangi cuma modal pakai AK-47 + doa, Jangan2 alasan pokok sebenarnya cuma mau nebeng bunuh diri… alih-alih disebut mati sahid, hah?!.. lha memang pasti mati kok kena rudal, siapa yg tahan ‘dedel duwel’ kecuali su-permen atawa gatotkaca.

Makanya aku menyinggung soal teknologi, perkuatlah islam dengan ‘Masa depan’, pengetahuan, kejayaan ilmu, tekhnik dan belajar… (sekolah ke Amerika boleh enggak ya? soalnya di sana kan modern, futuristik….) hemmmm, tapi kata nabi di suruh ke Cina, jadi ke Amerika enggak boleh titik!

Lha pernah saya bikin projek X tentang penetrasi internet di sebuah pondok yang menurut saya sudah wah, maksudnya ya biar santrinya melek sedikit lah, tidak seperti bunglon dalam tempurung, lha kok ditolak mentah2, padahal semua alokasi dana sudah dari sononya gratis bantuan dari pemerintah setempat, alasannya : teknologi internet lebih dominan meracuni generasi muda, banyak jeleknya ketimbang baiknya, alamak… mungkin para pinisepuh takut para santrinya jadi hobby porno keseringan liat situs bokep, trus khawatir sabun yang disediakan di kamar mandi cepet habis. Waduh berarti ajaran agama Islam itu lemah tak berdaya dan sekarat banget ya? sampai2 memberi batas warning santrinya biar tidak nyasar ke area gelap ‘blue’ enggak sanggup, jadi yg ditonjolkan dan dibesar2kan adalah soal mengisolasi diri (kenapa enggak beli saja Pulau Nusa Kambangan lalu dirombak jadi Pondokan) Para santri disuruh bolak-balik AlQuran setiap hari, makan, tidur, lalu ke WC. Disuruh menghapal hadist pagi siang malam, trus keluar dari situ mau jadi apa? jangan-jangan jadi TKI?

Yang dibesarkan-besarkan cuma doktrin “jauhi produk-produk kafir!, perangi orang-orang kafir” trus apa kita enggak malu sama cendekiawan2 islam jaman dulu kala yang cemerlang seperti Al Jabar, Ibnu Sina, karya2 emas mereka malah sukses dikembangkan kaum barat, lha kita ini yang diurus sehari2nya apa? cuma jihad2 palsu yang malah bikin sengsara banyak orang, bom-boman, bredel-bredelan, farwa-fatwaan, haram-haraman, sanggah-sanggahan, demo-demoan, la la la tri li li

Sebagai seorang Islam, kita jangan bangga sebagai yang paling Wah (yg paling benar dr semua agama, sama dengan agama penutup) terus santai melempem dengan kehidupan yang sederhana dan alakadarnya, kelihatan di jaman sekarang ini.. teknologi dipinggirkan lalu digelontor dengan simbol-simbol akhlak atau ketuhanan atau keagamaan atau apalah….., itu yang paling utama dan diutamakan, enggak peduli akhirnya bodo dan dungu tapi yang penting kan akhlaknya baik, masuk surga deh. Ya jangan heran kalau kita semakin jadi terpojok dan kerdil di tangan para penguasa, tidak berdaya di plonco kaum tekno barat, kaum batil, kaum zalim atau apalah juga….

Seandainya mulai dari anak2, kita susun strategi matang tentang masa depan, islam itu kuat, bukan cuma ajarannya tapi juga pemikirannya. So biar saja anak kita main komputer, lihat Gaban, liat Film barat, main PS, makan hamburger makan Pizza minum Fanta sesekali —> itu teknologi. Imbangi dengan mengaji belajar hadist, budi pekerti, silaturahmi.. jangan malah dikurung di kamar, dilarang jalan2, disuruh makan singkong aja + minum air putih, sederhana dan merakyat. Alasan dan katanya nanti bisa terjerumus ke pergaulan dan aliran yg sesat, Lho kok takut? begitulah ternyata benteng ampuh agama islam…selalu melarikan diri dari godaan, bukan malah gagah perkasa mengatasi godaan. Contohnya puasa, semua warung diliburkan, trus sebenarnya kita itu puasa karena terpaksa dan dipaksa, bukan dari hati dan iman.. lha wong enggak ada lg yg dimakan di warung, sakitpun terpaksa puasa juga toh, lagipula semua produk untuk lidah yang di luar2 sana adalah produk kafir jadi harus di jauhi.. hik hik, ada lho wak haji temen ngopi dari Malaysia yang bikin KFC di muka rumahku, pernah mau di bakar tokonya gara2 sentimentil sama Amerika… Lha wak Haji itu salah apa? Juga militan2 Islam yang kebangetan itu, ngebom hotel buat apa? wong ya yang tidur di dalam-dalam situ saudara-saudara kita juga, pegawai-pegawainya temen2 kita juga yang tiap dengar adzan ambil air wudlu…lalu sujud kepada-Nya.

Gambar lagu dan mainan. Guru agamaku dulu bilang… menyimpan patung, mendengar musik dan memajang gambar-gambar adalah dilarang… terus bila kita rujuk pada kondisi kita sekarang ini, tiap hari diap detik tiap waktu kita ktemu dengan yang namanya radio, CD + DVD, digital, televisi…. (Whaduh jadi bingung aku, kalo komputer gimana? jangan2 dilarang juga ya? didalamnya kan macem2… ada musik (dari dangdut sampai gambus) ada gambar ~dari gambar presiden sampai gambar telanjangnya Madonna, malah kalo ngemis sama oom google bisa dikasih macam-macam gratis!!~ Whaduh whaduh)

Hemmm…..

Akhirnya… Mboh ra weruh!! Lebih baik cari kopi kental sama Luki strik + obat cespleng yang bikin puyeng mpot-empotan itu…… slurup-slurup uhuk uhuk…..merokok bikin impotensi!! ??!!!@#$% dulu kan belum ada narkoba berarti boleh dong ya mengkonsumsi, satu lagi…. apa lampu 5 watt di kamarku perlu di modar kan juga, ingat-ingat kok jaman nabi belum ada listrik kayaknya, paling2 pakai obor atau sentir, kalu bahasa modernnya lilin… jadi kalo kita sekarang pakai listrik itu bi’dah namanya —-> eh bener enggak, lama-lama kok aku jadi kaya orang gila dan kesurupan begini.

Berjalan di sebelah kiri, apa benar?

Seperti kebanyakan orang bilang, berjalanlah disebelah kiri (searah jalur kendaraan) agar selamat sepertinya terasa benar, tetapi orang bijak akan bilang “berjalanlah di trotoar pejalan kaki sebelah kanan ( melawan arah arus jalur kendaraan), mengapa?

Sebab bila berjalan disebelah kiri (searah jalur kendaraan) bila akan tertabrak kita ga bisa menghindar sebab kita tidak tahu apa yang ada dibelakang kita, tetapi bila berjalan kaki disebelah kanan (melawan arah arus kendaraan), kita akan tahu ada motor, ada mobil, ada truk, ada banyak kendaraan lain yang didepan kita, nah pada saat akan tertabrak, minimal kita sudah bersiap untuk menghindar dan meminimalkan kecelakaan yang lebih parah”, intinya adalah: melawan arah arus jalur datangnya kendaraan adalah arah yang baik untuk berjalan kaki ditepi trotoar pejalan kaki!

UNTUNG opo BUNTUNG?

Ada 2 macam keberuntungan, yaitu keberuntungan yang datang dari dalam diri sendiri (Internal Luck) dan keberuntungan dari factor luar (External Luck)Demikian juga Bad luck (ketidak beruntungan/ kesialan) bisa datang dari diri sendiri (Internal Bad Luck) dan dari luar (External Bad Luck)

Keberuntungan Internal disebabkan oleh 2 hal, yaitu pertama :

A. berhubungan dengan sikap menyenangkan/ perlakuan menyenangkan diri kita kepada orang lain, kepada satwa, kepada pohon, kepada lingkungan, planet kita, tata surya kita, galaksi kita, jagad raya kita dan pokoknya habitat kita

B. berhubungan dengan skill/ kemampuan/ keahlian kita

A. Bagaimana caranya menaikkan keberuntungan Internal dalam diri kita sendiri? Ada banyak cara diantaranya, yaitu:

1. Berbuat dan bersikap menyenangkan pada orang lain hingga banyak relasi apalagi bila orientasi bisnis anda nantinya adalah berdagang maka banyak teman adalah kuncinya, dan untuk banyak teman bersikap menyenangkan adalah kuncinya, tidak usah banyak debat, terima aja apa yang dikatakan orang lain, walopun ga setuju, simpan dalam fikiran, tidak usah dikatakan keorang tersebut selama tidak melanggar hak asasi manusia/ memaksakan ajaran tertentu dan kehendak tertentu yang merugikan orang lain!

Dan sikap kita juga harus netral, jangan melihat orang lain beragama lain lalu kita tidak menyamakan perlakukan kita pada mereka, jangan melihat jenis kelamin orang lain beda lalu kita menggaji orang tersebut tidak sama padahal kerjanya sama beratnya bahkan mungkin lebih berat, dan pemahaman yang berbeda dengan kita, lalu kita menggajinya lebih sedikit ataopun memahalkan harga suatu barang karena ras, suku, bangsa, bahasa, logat dan spesies berbeda dari kita misalnya.

Kalo anda orang agamis, cerminan sikap menyenangkan anda kepada orang lain selama didunia adalah cerminan anda disurga nanti, jadi wujudkanlah surga didunia dengan bersikap menyenangkan kepada orang lain untuk mendapatkan hidup menyenangkan disurga nanti

Dan bila sikap kita didunia tidak menyenangkan kepada orang lain, kata-kata kasar, kata-kata yang selalu membuat orang lain sakit fikirannya, dan perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan kepada orang lain seperti fitnah, hasut, bohong, korupsi, tidak jujur dan perbuatan-perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain lainya apapun bentuknya. Istilahnya mulut kita selalu mengeluarkan api dan menyakiti yang lain.

Maka sebenarnya kita telah mengurangi kesempatan mendapatkan keberuntungan yang lebih, mengapa? Sebab orang akan menjauhi kita, akhirnya kita sulit berdagang, sulit mendapatkan relasi dan kesulitan-kesulitan lainnya, hidup menjadi panas bagai dineraka! Dan demikian juga nantinya cerminan hidup kita di akherat nantinya, sikap kita yang tidak menyenangkan pada orang lain, pada satwa, pada lingkungan akan membawa bad luck!

“Berbaik-baiklah dengan teman walaupun saat ini kita sedang sukses, sebab saat terjatuh, temanlah yang menolong kita” Michael Gumelar

Lalu bagaimana kalo kita sudah berbuat menyenangkan lalu orang lain tersebut bersikap dan bereaksi tidak menyenangkan? Jangan sedih, hindari saja, tetapi jangan dimusuhi, biarkan saja hidup ini lebih indah kok bila kita tidak memusuhi orang lain walaupun kita berbeda pendapat!

acuan hak asasi manusia sangat berguna untuk dibaca, difahami dan diterapkan sehari-hari dalam kehidupan kita, hak asasi manusia akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, baca disini: http://www.unhchr.ch/udhr/lang/inz.htm

jadi untuk menjadi manusia yang lebih baik, sebenarnya tidak diperlukan agama, tetapi etika, moral dan hak asasi manusia serta patuh pada hukum manusia yang berdasar pada hak asasi manusia dan persamaan derajat pria dan wanita!

Bila kita melanggar hukum dengan membunuh orang yang beragama lain karena jihad yang salah, maka hukum akan mengejar kita, dan tuhan kita tak akan menolong kita!

Jihad yang benar menurut versi saya adalah dengan tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, dengan tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain apapun bentuknya!

2. Banyak belajar dan terus belajar tanpa henti untuk menaikkan skill/ kemampuan/ keahlian kita, jangan merasa kemampuannya sudah cukup setelah banyak umurnya, umur banyak belum tentu keahliannya banyak, umur sedikit (masih muda) belum tentu keahliannya sedikit!

Bagaimana kita berharap bisa mendapatkan hidup layak bila kemampuan kita hanya bisa menambal ban misalnya! Maaf bukan merendahkan penambal ban, tetapi bila ingin hidup layak maka suatu keharusan agar terus mengembangkan keahlian kita, mencari keahlian tingkat tinggi, misalnya belajar computer, bahasa inggris dan seni lalu jadi graphic designer misalnya.

Bagaimana kalo tidak punya biaya? Berusaha untuk mendapatkan biaya, dengan menabung dan bekerja lebih cerdas dan lebih keras lagi! Ada banyak cara mendapatkan uang dan kekayaan, yang penting bekerja saja dulu sembari menabung, ga punya ijasah?

Kursus ga perlu ijasah, mulai kursus dibidang yang diinginkan yang dianggap bisa mendapatkan uang dan menaikkan keberuntungan internal kita, sebab ketidak adanya keinginan untuk belajar akan membawa bad luck. Gunakan langkah nomor satu dengan bersikap menyenangkan pada orang lain akan sangat membantu dan memudahkan kesulitan biaya, orang lain akan siap membantu bila kita selalu bersikap menyenangkan pada oran lain.

3. Bercita-citalah, berencana yang tinggi dan pantang menyerah, dengan bercita-cita yang tinggi, maka kita akan selalu berusaha untuk melakukan dan memacu perubahan dan perbaikan dalam diri kita agar lebih baik dan selalu mengarah ke hal ataupun lingkungan dimana cita-citanya berada. Bila kita ingin jadi seorang presiden, maka kita akan selalu belajar giat, belajar banyak ilmu pengetahuan dan ingat harus gabung dan berada dalam partai politik!

Dan bila gagal, jangan putus asa, bangkit dan bangkit lagi pantang menyerah, jangan langsung menyerah hanya karena beberapa kali gagal, ada kemungkinan kita memang belum handal (ahli) dibidang tersebut, jadi tetap berjuang pantang menyerah bila itu memang tujuan anda!

Ingat ini hanyalah masalah matematika, jika awalnya tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, maka akan ada kemungkinan muncul kata ya! Dan akan semakin ahli dan handal kita, akan lebih banyak kata ya yang muncul daripada kata tidak! Tetapi jangan selalu berharap akan muncul kata ya walaupun kita sudah handal didalamnya!

4. Pandai menganalisa sesuatu dan mencari solusinya, misalnya ada tempat-tempat tertentu yang lebih baik, contohnya, kita akan mendapatkan banyak pelanggan warung nasi kita bila kita berjualan ditepi jalan dan didekat daerah yang banyak orangnya, misalnya pabrik, mall atopun perkantoran! Nah disertai skill/ keahlian kita membuat makanan yang enak, maka keberuntungan kita akan naik!

Sedang bila kita berjualan ditempat sedikit orang dan jauh masuk kedalam, maka tentu saja akan membuat luck kita berkurang bahkan mungkin tidak akan ada pembelinya.

Pandai menganalisa membuat kita peka terhadap lingkungan dan mencari solusinya pada masalah yang kita hadapi. Mengapa pasar ikan lesu? Cari penyebabnya, analisa dan dapatkan solusinya untuk mengatasi permasalahan yang ada.

5. Penampilan yang bersih atopun mempunyai tempat yang bersih, penampilan dan tempat yang bersih akan membuat orang nyaman untuk berdekatan dengan kita atopun ngumpul ditempat kita hingga orang tidak terkena diare, karena terlalu banyak lalat, tikus, kecoa ditempat kita. Juga beri tempat kita keindahan seperti tanaman, lukisan, dan hal-hal indah lainnya agar lingkungan tempat kita jadi nyaman.

Penampilan bersih, nafas segar, bau badan segar, membuat orang mau lebih lama berdekatan dengan kita, tetapi jangan membeli wewangian yang bercampur alcohol, sebab beberapa orang akan alergi dan mungkin bersin-bersin, hingga membuat orang tersebut tidak mau berdekatan dengan anda.

Gunakan wewangian yang alami dan tidak membuat alergi, ato sebaiknya tidak usah pake wewangian asal tampilan kita bersih sudah cukup.

Yang harus diperhatikan adalah, penampilan dan tempat yang bersih tidak selalu identik dengan sesuatu yang mahal!

6. Jangan membesar-besarkan masalah yang kecil dan jangan mengecilkan masalah yang besar, nilai dan sikapi semuanya dalam porsi yang sesuai!

7. Pengalaman dan kebijaksanaan yang tinggi, dengan pengalaman, kita akan lebih faham dengan apa yang akan hadapi, dan langkah apa yang pas dengan keadaan tersebut

8. Keberanian untuk bertindak! Dari semua langkah diatas, sebenarnya langkah inilah yang paling penting, semua hal yang telah anda rencanakan diatas tidak akan terlaksana bila kita kurang berani bertindak! Kadang dengan ketidak mampuan tetapi berani bertindak, maka akan membuat orang tersebut matang dengan spontan! Dan akhirnya ahli dalam bidang tersebut!

9. Yang harus di ingat adalah selalu bersikap menyenangkan bukanlah/ tidak sama dengan bersikap tidak teliti, bersikap ceroboh dan cenderung percaya pada orang, bukan itu maksudnya, sebab bila ini yang kita lakukan, maka kita akan selalu dibohongi oleh orang lain yang ingin memanfaatkan kebaikan kita. Membuat kita simpati (suka dengan apa yang dibicarakan) lalu ber- empati (rasa iba kepada orang lain) pada dia, hingga kita jadi lengah dan mudah dibohongi. Sebab ada para penjahat yang bersikap seperti ini, pura-pura baik, lalu saat kita lengah! Habis semuanya!

kuncinya cuman hati-hati, teliti, jangan tergesa-gesa menentukan sesuatu yang penting (crucial), diskusi dengan orang lain yang lebih berpengalaman dengan masalah yang dihadapi dan segala kemungkinan-kemungkinannya

Ubahlah nasib kita dengan memperbaiki Internal Luck kita!

B. Bagaimana caranya menaikkan keberuntungan External dalam diri kita sendiri?

Jawabnya tidak ada, factor ini murni datang dari luar diri kita, seperti undian, selamat dari kecelakaan, dan keberuntungan-keberuntungan lain diluar yang datangnya dari dalam diri kita sendiri.

External luck dan External bad luck datangnya random! Tidak peduli kita seorang anak-anak, tidak peduli kita dewasa atopun tua, tidak peduli apa ras kita, suku kita, tidak peduli apa agama kita, tidak peduli kita penjahat, tidak peduli kita orang baik, tidak peduli kita wanita, tidak peduli kita pria, tidak peduli apa bangsa kita, tidak peduli kita kaya, tidak peduli kita miskin!

Hanya ada satu factor yang membuat external luck ato bad luck ini ada, yaitu factor random (acak) dan factor acak ini adalah factor matematika, dimana variable bebasnya terlalu banyak.

Contoh, kita bisa menebak koin dengan 2 mata koin, satu sisi ato sisi lainnya, misalnya satu sisi bergambar orang dan sisi lainnya bergambar kota, maka kita bisa menebaknya lebih mudah, mengapa? Sebab variabelnya Cuma 2, berarti kesempatan yang muncul antara gambar orang dan gambar kota adalah 1 dibagi 2, ato ½-nya

Contoh kedua adalah mata dadu, dari angka 1 sampai angka 6 disetiap sisinya, maka kesempatan muncul salah satu angka adalah 1 dibagi 6 variabel angka, maka kesempatan angka apapun yang muncul adalah 1/6-nya. Hal ini masih masuk dalam istilah hitungan matematika exact dan terbatas jumlah variabelnya hingga mudah untuk dihitung

Bagaimana kalo variabelnya manusia yang jumlahnya sangat banyak itu, juga disertai sebab-sebab variable alam, variable lingkungan, dan variable-variabel lain yang belum disebutkan namanya! Maka keberuntungan yang datang dari luar memang sangat tidak bisa dikendalikan (uncontrollable).

Nah bila hitungan dan variabelnya terlalu banyak, maka hitungan matematika seperti ini cenderung disebut dengan nama matematika social! Sebab nilainya variable yang dihitung sudah tidak bisa dihitung lagi karena terlalu banyaknya, untuk itulah terkadang diperlukan teknik sampling (contoh di area tertentu) untuk menentukan brapa persentase suatu masalah itu muncul dari beberapa variable yang ada.

Beberapa orang agamis menyebut factor keberuntungan external ini dengan nama factor tuhan! benarkah? Itu terserah anda, sebab tanpa kita percaya ini dari factor tuhanpun, sebenanya hanya variable yang terlalu banyaklah yang menentukan ini semua secara random, kalo memang itu keberuntungan dari tuhan, lalu mengapa tidak berdoa saja agar keberuntungan itu selalu datang ke kita? Bisakah? Tentu saja tidak bisa (^_^)

Tetapi semua kesempatan adalah 50:50 baik internal luck maupun external luck, jadi jangan terlalu berbangga diri dan pasti berhasil walaupun kita sudah handal didalamnya, mengapa?

Sebab kita sebenarnya juga sedang bertarung dengan Internal Luck dan External Luck orang lain pula! Sebab mungkin level/ tingkatan internal luck orang tersebut sama dengan kita ato bahkan lebih besar, Jadi jangan pernah meremehkan orang lain! Selalu bersikap menyenangkan akan membuat kita lebih baik walaupun ternyata orang lain lebih luck dari kita bila suatu saat itu terjadi, nah dengan bersikap menyenangkan siapa tahu kita bisa menjadi temannya dan kita masih bisa mendapatkan bagian kita sedikit atopun banyak (^_^)

Tentang JIHAD nya ASUKOWE

Beberapa kesedihanku terangkum tentang kaum Muslim di jaman sekarang ini : Semua teroris (pada umumnya di tunjukkan ke kaum muslim) salah visi thd JIHAD, lho apa yg salah? agamanya atau penganutnya?

Dalam Islam, Jihad selalu selalu identik dengan berperang semata, seperti anggapan orang awam. sebenarnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membagi jihad ke dalam empat tingkatan :

1. Jihad melawan hawa nafsu.
2. Jihad melawan Syetan.
3. Jihad melawan orang – orang kafir dan munafik.
4. Jihad melawan kezaliman dan bid’ah.

Sebenarnya juga, Jihad dalam pengertian perang, bukanlah jihad membakar gereja dan memberantas umat Kristen sebagaimana yang digambarkan selama ini. Jihad dalam makna perang disyariatkan terhadap orang-orang yang terlebih dahulu melakukan penyerangan (defesif). Itu pun tidak boleh dilakukan dengan melampaui batas. “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dair kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar.” (QS al-Hajj :39-40).

Kendati dalam Islam jihad diartikan perang, tapi tetap menjunjung tinggi akhlak mulia, keadilan, kemanusiaan dan kedamaian. Salah satu contohnya, etika Islam yang telah menggariskan bahwa dalam perang dilarang membunuh anak-anak, wanita dan merusak pohon-pohonan.

Telah disabdakan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara I’nah, dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, ridho dengan persawahan, serta kalian meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian”. Semua maksiat diatas telah kalian lakukan, salah satunya meninggalkan jihad hingga Allah timpakan kehinaan atas kalian. Barangsiapa yang melakukan hal-hal tersebut maka akan ditimpakan atas mereka kehinaan. Kemudian bagaimana agar kehinaan tersebut bisa terangkat? Apakah dengan menegakkan jihad? Tidak, kembali untuk menegakkan jihad diwaktu sekarang tidak bermanfaat, karena manusia yang berkata aku akan kembali kepada jihad tidak paham akan jihad, maka harus kita kembali kepada asasnya yaitu sebagaimana sabda Nabi “hingga kalian kembali kepada agama kalian”. (hadits diatas tidak mengatakan hingga kalian menegakkan jihad akan tetapi sabda Nabi berbunyi : hingga kalian kembali kepada agama kalian-pent)

Oleh karena itu dikatakan bahwa memerdekakan Palestina, mengeluarkan orang-orang yahudi dari bumi Palestina, merupakan salah satu dari kewajiban atas umat Islam. Tidak sepantasnya hanya diam saja dengan kehinaan dan kesengsaraan. Namun wajib bagi kita untuk mengambil sebab-sebab yang pas dan melaksanakan ketentuan Allah guna mendapatkan pertolongan-Nya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didalam shohih Bukhari dan Muslim “Kalian memerangi orang-orang yahudi hingga mereka berlarian dan bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan, hingga pepohonan dan bebatuan berkata : Wahai muslim, wahai hamba Allah .”

Yang menang atas orang-orang yahudi, yang membunuh yahudi, yang mengeluarkan orang yahudi dari negeri kaum muslimin adalah muslim, hamba Allah jika kita kembali kejalan Allah maka kita ditolong atas orang yahudi. Jika kita mempergunakan keadaan kaum muslimin yang dirundung duka dan luka untuk kepentingan suatu kelompok, maka ini tidaklah disukai oleh agama kita dan tidak diterima oleh seorang yang mukhlis dari kita. Realita yang terjadi pada pergerakan-pergerakan hizbiyyah serta kelompok-kelompok yang lain adalah mereka sibuk dengan kejadian tragis di Palestina, mereka sibuk dalam mengekspos pembunuhan, penghancuran dan selainnya, dan sebernarnya mereka hanya duduk-duduk saja sambil merokok.

Mereka sibuk dengan ketragisan di chechnya, dan di Bosnia tapi apa yang telah mereka hasilkan? Tidak ada sedikit pun, namun tiba-tiba mereka datang dan berkata: Kalian wahai salafiyyun tidak menganjurkan manusia untuk berjihad, kalian tidak menginginkan agar negeri kaum muslimin bebas. Sesungguhnya mereka tidaklah berkata melainkan hanya perkataan dusta. (QS. Al-Kahfi : 5)

Sejarah akan bersaksi bahwa dakwah salafiyah ini merupakan dakwah yang sangat antusian untuk menjadikan kaum muslimin sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Akan tetapi mereka yang tidak ingin berjalan diatas ketentuan Allah tergesa-gesa dalam bertindak hingga menjatuhkan umat dalam kesedihan, penyesalan, pembunuhan, dan pengrusakan. Lihatlah realita mereka di al-Jazair. Apa yang telah dihasilkan oleh revolusi mereka, pembunuhan, Pengrusakan dan hancurnya mobil-mobil .. Apa yang dihasilkan di Mesir? Apa yang dihasilkan di Suria? Apa yang dihasilkan oleh mereka yang mengatakan kami keluar dari pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah .. Mereka tidak merubah sesuatupun melainkan malah menambah kesengsaraan, menambah fitnah, menambah kehancuran. Dahulu manusia dalam ketenangan, kedamaian sekarang berubah menjadi kesengsaraan dan kepedihan

Sesungguhnya yang terjadi di Palestina adalah penyalah gunaan keadaan manusia untuk mencapai apa yang diinginkan oleh para pemimpin. Sebelum kita melihat kepada intifadhoh maka lihatlah kepada intifadhoh yang terdahulu yang selama berpuluh-puluh tahun bergejolak namun apa yang dihasilkan? Hanya menghasilkan perdamaian .. Maka harus kita berangkat dari realita yang (pahit ini) dan jangan sampai kita ditunggangi oleh ahli bathil. Siapakah yang mengatakan bahwa batu bisa menghancurkan tank-tank? Dan siapa yang mengatakan bahwa ketapel bisa mengalahkan rudal sedangkan anda dan musuh anda sama-sama bermaksiat kepada Allah ta-ala?!

Ada seorang ikhwah dari Baitul Maqdis bercerita kepada saya (penulis) bahwa dia telah mengunjungi para korban yang terluka, kami berkunjung kepada 32 orang lebih, 30 orang diantara mereka tidak sholat. Mereka datang dan berkata : nasrani yang ikut dan turun kejalan untuk demonstrasi dan terbunuh dia sahid Apabila terbunuh karena ikut revolusi maka mereka sahid. Pemabuk, pezina, syirik kepada Allah asalkan dia ikut revolusi, maka dia mati sahid. Palestina tidak akan bebas hanya dengan angan-angan, Palestina tidak akan bebas dan merdeka hanya dengan slogan-slogan

Palestina membutuhkan para pejantan, yang melakukan ketaatan kepada Allah, seperti dalam hadits “Wahai muslim, wahai hamba Allah dibelakangku ada yahudi kemarilah dan bunuh dia”. Merekalah yang akan membebaskan Palestina, merekalah yang akan membebaskan rumah-rumah kaum muslimin yang terampas

Kita mohon kepada Allah agar dikembalikan keagama kita dengan baik, dan agar diangkat kehinaan dari kita, diangkat kehinaan dari saudara-saudara kita serta negeri-negeri kaum muslimin, dan agar dikembalikan apa-apa yang terampas dari negeri kaum muslimin kepada negeri Islam. Amin

Beberapa cuplikan dari Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly

« Tulisan sebelumnya