Ada yang bilang Agama itu seperti istri tetangga, aku bilang Agama hanyalah baju

Forwarded Message :

Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.

Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu. Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. “Apakah anda semua punya tetangga?” wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : “Tentu saja punya”.

Cak Nun melanjutkan bertanya : “Punya istri enggak tetangga Anda?” Sebagian hadirin menjawab : “Ya, punya dong”. Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya. Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : “Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya?”

Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun. Kebanyakan menjawab : “Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?”

Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : “Body-nya sexy enggak?” Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu. Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasa saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah negeri yang memilih Pancasila : “Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.

“Kenapa cak?” salah satu teman bertanya, penasaran. “Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya,
mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja”.

Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun. Dia melanjutkan serius : “Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. “

Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.

Cak Nun terus berkata : “Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Begitu. “

Kami semua terus menyimak paparannya.

“Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.”
“Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah,” ujarnya.

Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di
berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan hancu berantakan. Sangat menyedihkan.

Ya, agama hanyalah baju

& Komentar »

  1. dexlon Berkata:

    Setuju dgn pendapat Cak Nur….ngapain juga ngurus istri tetangga… Ngejomblo semur hidup..why not????? alias atheis…asal..pikiran, perkataan dan perbuatan berjalan lurus2 azah….

  2. Salman Aljazuli Berkata:

    jangan bikin yang aneh aneh nanti anda bingung sendiri….
    sudah saat nya anda berpikir.
    siapa tau besok anda sudah dicabut nyawa anda…

  3. Pakacil Berkata:

    jadi kangen padhang mbulan…

    Relasi horizontal-vertikal yang dibahasakan dengan sederhana tapi mengena. toh, kaplingnya sudah jelas.

  4. asukowe Berkata:

    Kagem :

    @Salman :
    Saya sudah lama bingung dan sudah lama berpikir, so ?

    @pakacil :
    http://www.padhangmbulan.com/esai-cak-nun/ ?
    njenengan juga suka dolan ke situ ?

  5. Aji Berkata:

    kalo ahmadiyah bagaimana..

    kalo saya lihat analog dengan penjelasan caknur..
    sama saja dengan memperkosa istri tetangga..
    kecuali kalo cari istri sendiri..

  6. tergoda Berkata:

    @ Aji

    Betul mas, nah kalo aku ada pertanyaan tambahan buat mas asukowe, gimana kalo istri tetangga senengnya pamer bandane (hartanya) terus suka rumpi dan manas-manasin dgn hasil akhir tetangganya jadi ribut, kita yg asalnya gak mau lihat paha istri tetangga malah si dianya duduk di beranda rmh dgn rok mini dan lirikan menantang.
    Kan gak tahaaannnnnn maaaaassss….

    **kabur dolo ah…**

  7. asukowe Berkata:

    Kagem tergoda :

    Lha kalau tergoda berarti imannya lemah, gitu kok repot, Saran saya belajar lebih keras lagi mencintai istri sendiri, jangan suka keluyuran terus. Usahakan makan di rumah tidur di rumah sering-sering ngobrol, niscaya akan ditemukan betapa istri kita adalah yang paling cantik di muka bumi ini. Satu lagi, kalau njenengan dipanas-panasi kok bisa sampai ribut berarti njenengan tipe anarkis, apa bedanya dengan yang tukang bom sama tukang bacok itu ? mbok yang manas-manasi itu disadarkan, njenengan muslim kan? ajarkan agama dengan damai dan senyum bukan dengan golok dan huru-hara.

  8. tergoda Berkata:

    @ asukowe

    Lha kalau tergoda berarti imannya lemah….
    ————————————————-

    Emangnya milyaran manusia yg macem2 sifatnya bisa sama2 bereaksi tergoda dgn tipe “si istri penggoda” kaya gitu…kalo yg dilirik lalu diajak bobok reaktif dan kondusif sehingga sama2 merasakan gimana nikmuatnya surga dunia that’s fine, kalo yg melirik asu laper ntar dikira paha babi gimana? apa gak cuil2 tuh daging paha dikunyah-kunyah asu.

  9. asukowe Berkata:

    iyo

  10. tergoda Berkata:

    @ asukowe

    Kirain DEPPEN urusan BSP (Badan Sensor Posting)dah bubar, gak taunya pindah kesini to.

    Kalo dasarnya dah Q-Zruh ya gitu deh….kalo JoXZin…kayanya juga bukan….lauk ah geyap…

  11. asukowe Berkata:

    Ora mutu kowe le….

  12. fahrizalmochrin Berkata:

    iya asal ndak lirik rumput tetangga aja lebih hijau ( ijo royo-royo )

  13. sip artikelnya, keharmonisan bersama

    jabat Erat,
    IklanBarisInstant.Com

  14. fauzan helmy Berkata:

    Saya tidak setuju dengan pendapat Cak Nun. Kalau ada istri orang berbuat yang tidak benar, masih bisa di perbaiki, sedangkan agama yang tidak benar tidak akan bisa diperbaiki dan harus di buang jauh-jauh. Satu lagi… agama bukan manusia Cak Nun.

  15. Shugy Berkata:

    Budaya Agama atau Agama Budaya…bisa di lihat dari surat surat cinta masing masing itu…kelihatan kok kalau mau berpikir jernih.ngobrol2 kabar gembira masing masing saya kira boleh boleh saja.yang tidak boleh itukan memperkosa keyakinan…GustiAllah aja membebaskan hukum ini kok…monggo.


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar